Petak (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi)

Petak (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi)

Oleh : Kisno, M.Pd.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan sepanjang hidup (life time learning) yang meliputi kompetensi, kecakapan hidup, dan karakter. Pendidikan itu sendiri selalu berubah sepanjang waktu, contohnya di Indonesia yang dimulai dari sejarah pendidikan di masa penjajahan atau kolonial, hingga pendidikan yang bersifat kekinian atau milenial. Hal ini tentu saja menuntut perubahan-perubahan yang kritis, inovatif, namun tidak bertentangan dengan ideologi bangsa yang memang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita sejak masa penjajahan hingga Indonesia merdeka, yakni Pancasila. Artinya, pendidikan juga harus tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri dalam rangka memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Perubahan-perubahan di dalam dunia pendidikan juga tidak lepas dari perubahan zaman itu sendiri. Secara numerik, sudah 111 tahun kebangkitan nasional ada sejak pertama sekali didirikan sebuah organisasi yang dinamakan Boedi Oetomo. Tidak tanggung-tanggung, organisasi tersebut didirikan oleh beberapa orang founding person (para pendiri) dari Bangsa Indonesia yang sekaligus berstatus sebagai siswa di sekolah pendidikan dokter bagi kaum pribumi di Batavia, Hindia Belanda.

Awalnya, organisasi Boedi Oetomo diprakarsai oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo pada era revolusi industri 2.0 dengan sebuah tujuan mulia yakni mendirikan Dana Siswa untuk membiayai pemuda-pemudi yang cerdas namun tidak dapat melanjutkan studi mereka. Pada tahun 1907, dr. Wahidin kemudian bertemu dengan Soetomo, seorang pelajar STOVIA dan tujuan mulia tersebut kemudian diperluas cakupannya menjadi perbaikan sosial yang mencakup Jawa dan Madura. Bahkan di era revolusi industri 2.0, para pemuda sudah memiliki mental dan tindakan perjuangan yang diikhtiarkan untuk bangkit melawan kolonialisme, padahal waktu itu akses komunikasi di Hindia Belanda sangat minim, namun tak menyurutkan niat mulai mereka berdiskusi, bertukar ide dalam suatu forum yang kemudian menjadi cikal bakal kebangkitan nasional. Bahkan bila ditarik mundur ke belakang (era akhir revolusi industri 1.0), Multatuli sudah menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Max Havelaar” yang berisikan kisah mengenai tanam paksa yang menindas kaum bumiputera yang juga menjadi inspirasi kebangkitan perjuangan.

Bila melihat kembali dari latar belakang mereka (termasuk yang ada di dalam Boedi Oetomo), mereka semua adalah kaum terdidik yang mengaktifkan energi akal pikiran mereka demi melawan penindasan. Artinya proses berpikir dan menalar melalui akal yang mereka miliki timbul sebagai hasil dari pemicu utamanya yakni pendidikan. Pada masa ini, pendidikan Indonesia sudah bangkit, namun dengan tujuan memadamkan kolonialisme di bumi nusantara.

Beralih ke era 3.0, internet dan berbagai teknologi sudah muncul. Dengan kata lain, akses terhadap teknologi dan komunikasi semakin terbuka di Indonesia, apalagi Indonesia sudah dalam keadaan merdeka kurang lebih 50-60 tahun. Pada usianya yang setengah abad atau lebih tersebut, keadaan pendidikan di Indonesia semakin membaik, namun dibandingkan dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia masih belum mampu mengimbangi beberapa negara dalam satu kawasan Asia Tenggara di dalam bidang pendidikan. Ambil saja contoh, sejak tahun 2000 Indonesia sudah berpartisipasi dalam PISA (Programme for International Students Assessment), yang mengevaluasi sains, membaca, dan matematika siswa-siswi berusia 15 tahun. Dalam kurun waktu 15 tahun, Indonesia tetap berada di peringkat 10 terbawah di antara semua peserta program tersebut. Hal ini semakin diperparah lagi dengan adanya karut-marut penyelenggaraan Ujian Nasional di berbagai daerah.

Indonesia mampu “unjuk gigi” dengan banyaknya prestasi akademik dan non akademik di kancah regional dan internasional pada era 4.0 (Kisno, 2019). Namun ini juga menjadi dilema, barangkali karena bercermin pada negara-negara maju sehingga alpa memelihara kearifan di nusantara sendiri. Disrupsi teknologi telah mengubah potret pendidikan Indonesia yang menyedihkan, adanya kasus murid mempersekusi guru, mahasiswa membunuh dosen, pendidik dan pengajar yang bertindak tidak pantas kepada peserta didik, dan semua itu dengan cepat menjadi viral di era Internet of Things saat ini. Belum lagi banyaknya kasus korupsi yang melanda Indonesia, dan yang lebih menyedihkan lagi, tindakan korupsi tersebut dilakukan oleh kaum terdidik yang kemudian menjadi pejabat di institusi tertentu. Korupsi yang terus berlangsung bagaikan penyakit kanker yang sulit untuk disembuhkan. Korupsi tidak saja menyebabkan terjadinya kerugian pada keuangan negara namun juga berdampak terhadap terjadinya pelanggaran hak-hak sosial warga negara. Atas alasan dan kondisi itulah tindak pidana korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa atau extra-ordinary crimes (Febri Diansyah, 2011).

1.2 Fokus Penulisan

Fokus esai ini adalah integrasi antara perubahan zaman yang ditandai dengan sudah berjalannya revolusi industri 4.0, penguatan pendidikan karakter (PPK), literasi digital, dan implementasi integrasi pada mata pelajaran tertentu di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Tidak hanya berhenti pada integrasi tersebut, muara akhir atau solusi dari inovasi ini adalah menanamkan budaya anti korupsi yang merupakan salah satu wujud dari penguatan pendidikan karakter (PPK) yang kemudian dapat menjadi masukan di dalam perkembangan kurikulum Indonesia saat ini yang sekaligus menawarkan solusi menanamkan budaya anti korupsi melalaui dunia pendidikan sejak usia dini.

PEMBAHASAN

2.1 Piramida Proses Pembelajaran

Pada esai ilmiah ini, penulis memaparkan bagaimana proses pembelajaran dapat diserap dan diterima oleh seseorang dalam periode waktu 2 minggu.

Berdasarkan piramida pembelajaran di atas, setelah 2 minggu seseorang mampu menyerap 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% kombinasi dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang diungkapkan kembali, dan 90% dari yang diungkapkan kembali, serta dilakukan (Dale, 1969).

Hal ini berarti dengan membaca, mendengar, melihat, kombinasi membaca dan melihat hanya mampu memberikan setengah dari apa yang sudah diserap. Aktivitas-aktivitas ini termasuk menonton serta menyaksikan sesuatu yang ditampilkan di hadapan pembelajar. Aktivitas ini juga lazim dilakukan oleh banyak guru dan siswa di era kekinian, namun sekali lagi hal tersebut hanya memberikan setengah dari apa yang sudah diserap oleh peserta didik.

Bila ingin memperoleh hasil yang lebih maksimal lagi, peserta didik haruslah dilibatkan dalam partisipasi aktif, misalnya berdiskusi, berdialog, dan tak hanya sampai di situ saja, peserta didik juga harus melakukan simulasi dari apa yang sudah dibaca, didengar, dilihat, dan dibahas agar proses pembelajaran tersebut menjadi proses pembelajaran yang bersifat nyata (doing real thing).

 

2.2 Program PETAK

2.2.1 Deskripsi

Beranjak dari piramida pembelajaran ini, penulis menghadirkan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan antara mata pelajaran, penerapan literasi digital, serta penguatan pendidikan karakter dalam rangka menanamkan budaya anti korupsi sejak dini dalam ruang lingkup Kabupaten Deli Serdang.

Program ini diberi nama PETAK yang merupakan singkatan dari Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi. Pembelajaran ini melibatkan integrasi beberapa mata pelajaran yang ada di SMP, yakni Informatika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Mata pelajaran Informatika akan menjadi area kekuatan literasi digital dan kreativitas atau creativity, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi area inti anti korupsi melalui critical thinking, sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadi area komunikasi serta kolaborasi sehingga integrasi keseluruhan mapel ini sekaligus memenuhi tuntutan keterampilan abad XXI yang sedang gencar belakangan ini.

2.2.2 Penerapan

PETAK dimulai dari rancangan proses pembelajaran dengan pokok bahasan “Sebaran Korupsi di Indonesia” dan pokok bahasan ini dapat dikaitkan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang membahas tentang demografi penduduk Indonesia. Biasanya, demografi penduduk disajikan dalam bentuk diagram batang, dan hal inilah yang menjadi titik pusat inovasi pembelajaran oleh penulis agar demografi tersebut juga dimodifikasi menjadi demografi sebaran korupsi di Indonesia.

Pada tahap ini, guru menyampaikan pertanyaan yang menggugah peserta didik untuk berpikir kritis yakni dimulai dari tahap korupsi dan tindakan-indakan yang tergolong sebagai korupsi. guru menyampaikan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apa yang kamu ketahui tentang korupsi?
  2. Apa saja tindakan-tindakan yang tergolong sebagai korupsi?

Pertanyaan ini tidak dijawab langsung oleh peserta didik, namun guru meminta peserta didik untuk bekerja dalam kelompok serta memanfaatkan teknologi untuk memperoleh solusi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pembelajaran ini tentu saja membutuhkan aspek berpikir kritis. Salah satu cara untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah dengan menggunakan peta konsep (mindmap). Pemanfaatan teknologi yang dapat diterapkan untuk membuat peta konsep pemikiran itu adalah dengan menggunakan perangkat lunak atau software pembuat peta konsep pemikiran yang dapat diakses secara gratis dari http://mindmapfree.com/.

Dengan membuat peta konsep pemikiran mengenai korupsi dan tindakan-tindakan yang tergolong korupsi, peserta didik diharapkan sudah memiliki pengetahuan baru mengenai korupsi dan penggolongannya. Artinya, secara sadar ataupun tidak, peserta didik sudah menyimpan konsep tersebut setidaknya sebanyak 10-20%.

Untuk meningkatkan pemahaman lebih, peserta didik kemudian diminta untuk menciptakan sebuah peta mengenai persebaran korupsi di Indonesia. Melalui kerja kelompok, peserta didik diminta untuk mencari data atau informasi dari sumber yang terpercaya. Hal ini dilakukan dalam rangka menanamkan kesadaran para peserta didik untuk menghindari berita bohong atau hoax sekaligus menjadi integrasi perwujudan penguatan pendidikan karakter yakni jujur dan bertanggungjawab. Sebagai contoh, peserta didik memperoleh data sebagai berikut:

Berdasarkan data di atas, peserta didik diminta untuk menyampaikan apa yang menarik dari data tersebut dalam Bahasa Indonesia. Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk melakukan diskusi mendalam mengenai data yangs udah diperoleh dari sumber yang akurat dan terpercaya yakni laporan KPK. Dengan adanya dialog antara satu kelompok dan kelompok lainya, diharapkan akan meningkatkan daya serap informasi peserta didik hingga 70%.

Setelah berdialog, peserta didik diminta untuk membuat sebuah peta mengenai persebaran korupsi di Indonesia pada tahun tertentu. Mata pelajaran IPS menjadi kunci utama dalam tahap ini karena peserta didik diminta untuk menggambarkan Peta Sebaran Korupsi di Indonesia. Dengan kata lain, apa yang sudah diserap melalui apa yang mereka lihat (data), apa yang mereka dengar (diskusi), serta apa yang mereka bahas (dialog), diwujudkan dalam sebuah simulasi yang nyata (simulation on real experience). Berdasarkan data yang sudah diperoleh, peserta didik menggambarkan sebaran korupsi di Indonesia ke dalam sebuh peta Indonesia seperti pada gambar berikut:

Pembuatan peta ini dapat menggunakan bantuan software tertentu yang diakses bebas seperti https://www.scribblemaps.com/. Lantas timbul pertanyaan, integrasi dengan mata pelajaran Bahasa Inggris di mana? Di sini penulis menjawab bahwa dengan mengakses laman-laman pembuat peta konsep, juga pembuat peta, peserta didik akan berhadapan dengan laman yang berbahasa Inggris dan melalui ini, mereka dapat sedikit banyak mempelajari fungsi-fungsi serta fitur-fitur dalam perangkat lunak tersebut yang disajikan dalam Bahasa Inggris.

Pada akhirnya, pembelajaran dengan melakukan simulasi berdasarkan pengalaman nyata diharapkan akan mendongkrak penyerapan informasi yang lebih oleh peserta didik hingga mencapai 90%. Solusi dan hasil kerja peserta didik kemudian dikumpulkan melalui email ataupun unggah dokumen pada google form, dan hal ini tentunya akan berwujud positif pada perwujudan penguatan pendidikan karakter (PPK) khususnya anti korupsi. Karena dengan adanya batasan waktu penyerahan hasil tugas melalui pemanfaatan teknologi, diharapkan peserta didik mengurangi kebiasaan buang-buang waktu yang (barangkali) dalam wujud hidup nyata mereka terlihat dari adanya korupsi waktu, yakni memanfaatkan waktu yang seharusnya untuk bekerja dengan kegiatan lainnya yang tidak berhubungan.

PENUTUP

Inovasi pembelajaran Program PETAK (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi) tidak hanya berhenti di satu pokok bahasan saja, namun guru dapat mengembangkan serta memodifikasi pokok bahasan yang sudah ditetapkan di dalam kurikulum agar dapat terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi dan penguatan pendidikan karakter, sehingga penanaman budaya anti korupsi tidak hanya berhenti di satu pembahasan saja, namun dapat berlanjut terus hingga peserta didik semakin terbiasa dalam menanamkan sikap-sikap yang luhur yakni relijius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Sebagai ringkasan akhir, perwujudan budaya anti korupsi melalui integrasi dengan beberapa mata pelajaran dan penguatan pendidikan karakter dapat dituliskan sebagai berikut:

  1. Jujur dan tanggungjawa serta gemar membaca, dinyatakan dalam kegiatan mencari informasi yang akurat dan terpercaya serta menyebutkan sumber asli dari data atau informasi yang diperoleh.
  2. Kerja keras, kreatif, dan mandiri diwujudkan melalui kerjasama tim antar peserta didik dengan merancang sendiri konsep pemikiran mereka mengenai korupsi.
  3. Demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat, komunikatif, cinta damai, toleransi, dapat dilhat dari bagaiman siswa menyampaikan pendapat di hadapan kelomok lainnya, berdialog yang santun dalam menyelesaikan sebuah persoalan.
  4. Semangat kebangsaan, cinta tanah air, peduli lingkungan, peduli sosial terlihat dari bagaimana peserta didik menjelajah Indonesia melalui peta yang selama ini hanya dikenal dengan peta wilayah saja, namun tidak dikaitkan dengan fenomena memprihatinkan lainnya seperti sebaran korupsi di Indonesia.
  5. Dukungan terhadap program KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Indonesia terwujud melalui dunia edukasi, yakni membahas hal-hal yang mendasar dari korupsi, serta menanamkan budaya anti korupsi dengan cara mencegahnya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan di tingkatan sekolah dasar mapun menengah.

Sebagai penutup, inovasi pembelajaran dalam Program PETAK (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi) yang diberikan oleh penulis dapat juga diterapkan di mata pelajaran lainya yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia hingga saat ini. Rasa ingin tahu yang tinggi, kreativitas yang bermanfaat, dan kerja keras guru diharapkan dapat melahirkan inovasi-inovasi pembelajaran lainnya baik tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah.

Esai ini ditulis dengan Sub Tema “Gerakan Langsung Anti Korupsi sejak Usia Dini dalam rangka Peringatan Hari Anti Korupsi (HAKI) Kejaksaan Negeri Deli Serdang dan Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang tahun 2019

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dale, E., 1969. Audio-Visual Methods in Teaching. 3rd ed. New York: Holt, Rinehart & Winston.

Febri Diansyah, E. Y. D. F., 2011. Penguatan Pemberantasan Korupsi melalui Fungsi Koordinasi dan Supervisi, Jakarta: Indonesia Corruption Watch.

Kisno, 2019. Kapan Kebangkitan Pendidikan Indonesia (Lagi)?. [Online]
Available at: https://www.kompasiana.com/kisnoshinoda/5ce289c13ba7f72deb0b6373/kapan-kebangkitan-pendidikan-indonesia-lagi
[Accessed 28 11 2019].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *