David Lee, Sang Lilin Penerang

David Lee, Sang Lilin Penerang

Oleh : Silfana

Maukah kalian menjadi lilin di gelapnya keadaan?

Bagi orang yang mengenalnya, David Lee adalah seperti lembaran-lembaran buku rusak yang memberikan pengajaran. Persis seperti jalan hidupnya yang berbatu-batu, namun berhias mutiara di akhir jalannya.

David Lee atau yang sering dipanggil dalam kesehariaanya dengan nama David, memiliki suatu hal yang dapat dijadikan inspirasi. Di bangku sekolah dasar David kecil disekolahkan oleh ayahnya (Lee Kim Thian) di kampung karena ayahnya bekerja di kampung yang sangat jauh dari jangkauan kota.

Lee Kim Thian bekerja sebagai petani pengurus cokelat dan kelapa petani di bawah pimpinan perusahaan Inggris. Bercerita tentang kehidupan Lee Kim Thian, keluarganya juga jauh dari kata mampu. Untuk belajar, Lee dan adik-adiknya harus menggunakan lilin karena pada saat itu, lampu tidak ada. Hanya orang kaya saja yang menggunakan lampu.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok, mereka harus menahan sakitnya lapar. Namun, Lee tahu bahwa sekolah dan pelajaran itu sangat penting. Oleh sebab itu, Lee rela tidak sekolah dan harus bekerja demi menyekolahkan adik-adiknya. Hasil dari kerja keras Lee menuai hasil yaitu adik-adiknya dapat bersekolah hingga sukses sampai saat ini. Itulah mengapa Lee sangat mendorong David dan saudara-saudaranya David untuk tekun belajar.

David Lee, lahir di Kuala Lipis, Pahang, Malaysia 21 Januari 1963 dengan nama asli David Lee Wee Keong tidak bisa tidak melibatkan kesesakan di hati. Bayangkan pada usianya yang ke-12 tahun menduduki bangku SMP David dan adiknya yang pada saat itu berumur 10 tahun harus melanjutkan pendidikan di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Mereka berdua menempati rumah sewa dengan satu pembantu. Jarak ibukota Malaysia dengan kampung mereka sangat jauh dan juga biaya sangat mahal untuk bepergian sehingga untuk melepas rindu orangtua David hanya mampu mengunjungi sekali sebulan itupun jika kantong berisi.

Jauh dari keluarga mengharuskan David dan adiknya untuk hidup mandiri, disiplin, rajin belajar, dan tidak menyia-nyiakan waktu dan uang yang ada. Sekolah yang ditempati David dan adiknya bernama “Bukit Bintang”. Sekolah itu merupakan Swasta Kristen terbaik di Malaysia.

Bahasa yang digunakan di sekolaha adalah Bahasa Melayu. Bahasa Inggris jarang digunakan karena susah. Tetapi, orangtua David ingin anak-anaknya lebih maju lagi dalam pendidikan. Lulus dari  SMP, David dan adiknya dikirim ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan lagi.

Belum habis luka dan sesak di hati akibat jauh dari keluarga, muncul lagi sesak yang lebih dalam lagi karena jarak Inggris dengan Malaysia ialah 10.588 km. Tak mungkin dengan keterbatasan dana, David masih mampu melepas rindu setiap sebulan sekali.

Namun, empat tahun atau lima tahun sekali baru David dan adiknya boleh melepas rindu kepada keluarga. Teknologi telepon memang sudah ada saat itu. Namun, biaya menelepon lewat telepon umum harganya Rp. 100.000,- mahal bukan?

Pernah suatu kali akibat rindu yang sudah tidak dapat dipendam lagi, David dan adiknya memberanikan diri untuk menelepon melalui telepon umum. Balasan apa yang diperoleh? “Kemarahan” dari orangtua mereka.

“Jangan menelepon kalau tak penting, mahal tahu ini telepon kalau diguna! Kirim surat aje, Kalau rindu juga tahan aje yang penting sukses!”, Lee Kim Thian berkata. Sementara, surat butuh waktu 3 minggu untuk sampai. Itulah hal yang harus David lewati .

Wellington School adalah sekolah dimana David mendaftar. Sekolah itu merupakan asrama yang bertempat di Wellington Somerset, England. Bukan hanya harus menahan rindu namun, David juga harus menghadapi tekanan demi tekanan yang ada di sekolah.

Sekolah itu merupakan sekolah yang kebanyakan muridnya ialah orang Inggris asli dan hanya sedikit orang Asia. David sering mengalami perundungan (bully) dan tidak disukai karena berbeda ras. Namun, hal itu tidak membuat David putus asa, dia terus bertekun untuk belajar sehingga dia selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya. David lulus SMA dengan nilai-nilai terbaik di kelas Science-1.

David melanjutkan kuliahnya sarjana di Sheffield University, England. Ia mengambil Jurusan teknik sipil selama 3 tahun. Kemudian ia melanjutkan pendidikan S2 di Bradford University, England dengan konsentrasi Manajemen Bisnis selama 1 tahun.

Di kota Bradford inilah David bertemu dengan pasangan hidupnya yaitu Jacey Lee. Dari pernikahan mereka, mereka dikaruniai 2 orang putera. Selama David hidup di Inggris hingga punya anak, David sangat jarang pulang ke kampung halamannya. Namun, bila ada waktu dia pulang membawa keluarganya ke kampung halaman.

David bekerja sebagai arsitek dengan pemerintah di Bradford. Gajinya selama bekerja ialah senilai Rp. 80 juta per bulan. Istrinya Jacey Lee bekerja sebagai salah seorang perawat di rumah sakit Bradford ternama. David dan istrinya tetap bekerja di Inggris hingga suatu kali Tuhan memanggil mereka untuk berhenti bekerja dan melayani di Indonesia. Tuhan menyuruh mereka untuk hidup dengan iman.

Pada tahun 2004, mereka datang pertama kali ke Indonesia yaitu Aceh untuk membantu orang-orang Aceh yang terkena tsunami. Pada tahun 2006, mereka datang ke Batam dan merencanakan untuk membangun sebuah panti asuhan yang menolong anak-anak yang kurang mampu untuk bersekolah.

Pada tahun 2007, sebuah panti asuhan di Batam selesai dibangun dengan nama HOS (House of Shalom). Tidak hanya itu, David dan Jacey juga membangun panti asuhan di Medan pada tahun 2012 dan panti asuhan di Filipina, Ilo-Ilo pada tahun 2016. Mereka juga membangun gereja-gereja yang dinamakan Shalom Church.

David dan Jacey sudah membantu 160 anak-anak untuk sekolah hingga kuliah. David dan Jacey juga membantu sekitar 300 orang yang miskin dalam perjalanan mereka di ruli (rumah liar). Hingga saat ini mereka terus melayani dan membantu orang-orang.

Salah satu anak dari panti asuhan tersebut ialah saya sendiri. Mereka datang menolong saya untuk sekolah saat kehidupan keluarga saya jauh dari kata mampu. Mereka datang ke Indonesia dan rela meninggalkan hidup mereka di Inggris demi membantu orang-orang yang keadaannya gelap (baca: miskin).

Perjuangan David sarat akan kesesakan dan tekanan, namun mutiara menghiasi perjuangan tersebut di akhir jalan. Hal itu yang menjadi motivasi anak-anak yang ditolong untuk berjuang dan belajar walaupun kami tinggal jauh dari keluarga.

“Lilin penerang dalam gelap”, begitulah makna hidup David bagi saya.

 

Oleh Silfana

Penulis adalah siswa kelas XI di SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa T.P. 2020/2021

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *