Petak (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi)

Petak (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi)

Oleh : Kisno, M.Pd.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan sepanjang hidup (life time learning) yang meliputi kompetensi, kecakapan hidup, dan karakter. Pendidikan itu sendiri selalu berubah sepanjang waktu, contohnya di Indonesia yang dimulai dari sejarah pendidikan di masa penjajahan atau kolonial, hingga pendidikan yang bersifat kekinian atau milenial. Hal ini tentu saja menuntut perubahan-perubahan yang kritis, inovatif, namun tidak bertentangan dengan ideologi bangsa yang memang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita sejak masa penjajahan hingga Indonesia merdeka, yakni Pancasila. Artinya, pendidikan juga harus tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri dalam rangka memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Perubahan-perubahan di dalam dunia pendidikan juga tidak lepas dari perubahan zaman itu sendiri. Secara numerik, sudah 111 tahun kebangkitan nasional ada sejak pertama sekali didirikan sebuah organisasi yang dinamakan Boedi Oetomo. Tidak tanggung-tanggung, organisasi tersebut didirikan oleh beberapa orang founding person (para pendiri) dari Bangsa Indonesia yang sekaligus berstatus sebagai siswa di sekolah pendidikan dokter bagi kaum pribumi di Batavia, Hindia Belanda.

Awalnya, organisasi Boedi Oetomo diprakarsai oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo pada era revolusi industri 2.0 dengan sebuah tujuan mulia yakni mendirikan Dana Siswa untuk membiayai pemuda-pemudi yang cerdas namun tidak dapat melanjutkan studi mereka. Pada tahun 1907, dr. Wahidin kemudian bertemu dengan Soetomo, seorang pelajar STOVIA dan tujuan mulia tersebut kemudian diperluas cakupannya menjadi perbaikan sosial yang mencakup Jawa dan Madura. Bahkan di era revolusi industri 2.0, para pemuda sudah memiliki mental dan tindakan perjuangan yang diikhtiarkan untuk bangkit melawan kolonialisme, padahal waktu itu akses komunikasi di Hindia Belanda sangat minim, namun tak menyurutkan niat mulai mereka berdiskusi, bertukar ide dalam suatu forum yang kemudian menjadi cikal bakal kebangkitan nasional. Bahkan bila ditarik mundur ke belakang (era akhir revolusi industri 1.0), Multatuli sudah menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Max Havelaar” yang berisikan kisah mengenai tanam paksa yang menindas kaum bumiputera yang juga menjadi inspirasi kebangkitan perjuangan.

Bila melihat kembali dari latar belakang mereka (termasuk yang ada di dalam Boedi Oetomo), mereka semua adalah kaum terdidik yang mengaktifkan energi akal pikiran mereka demi melawan penindasan. Artinya proses berpikir dan menalar melalui akal yang mereka miliki timbul sebagai hasil dari pemicu utamanya yakni pendidikan. Pada masa ini, pendidikan Indonesia sudah bangkit, namun dengan tujuan memadamkan kolonialisme di bumi nusantara.

Beralih ke era 3.0, internet dan berbagai teknologi sudah muncul. Dengan kata lain, akses terhadap teknologi dan komunikasi semakin terbuka di Indonesia, apalagi Indonesia sudah dalam keadaan merdeka kurang lebih 50-60 tahun. Pada usianya yang setengah abad atau lebih tersebut, keadaan pendidikan di Indonesia semakin membaik, namun dibandingkan dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia masih belum mampu mengimbangi beberapa negara dalam satu kawasan Asia Tenggara di dalam bidang pendidikan. Ambil saja contoh, sejak tahun 2000 Indonesia sudah berpartisipasi dalam PISA (Programme for International Students Assessment), yang mengevaluasi sains, membaca, dan matematika siswa-siswi berusia 15 tahun. Dalam kurun waktu 15 tahun, Indonesia tetap berada di peringkat 10 terbawah di antara semua peserta program tersebut. Hal ini semakin diperparah lagi dengan adanya karut-marut penyelenggaraan Ujian Nasional di berbagai daerah.

Indonesia mampu “unjuk gigi” dengan banyaknya prestasi akademik dan non akademik di kancah regional dan internasional pada era 4.0 (Kisno, 2019). Namun ini juga menjadi dilema, barangkali karena bercermin pada negara-negara maju sehingga alpa memelihara kearifan di nusantara sendiri. Disrupsi teknologi telah mengubah potret pendidikan Indonesia yang menyedihkan, adanya kasus murid mempersekusi guru, mahasiswa membunuh dosen, pendidik dan pengajar yang bertindak tidak pantas kepada peserta didik, dan semua itu dengan cepat menjadi viral di era Internet of Things saat ini. Belum lagi banyaknya kasus korupsi yang melanda Indonesia, dan yang lebih menyedihkan lagi, tindakan korupsi tersebut dilakukan oleh kaum terdidik yang kemudian menjadi pejabat di institusi tertentu. Korupsi yang terus berlangsung bagaikan penyakit kanker yang sulit untuk disembuhkan. Korupsi tidak saja menyebabkan terjadinya kerugian pada keuangan negara namun juga berdampak terhadap terjadinya pelanggaran hak-hak sosial warga negara. Atas alasan dan kondisi itulah tindak pidana korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa atau extra-ordinary crimes (Febri Diansyah, 2011).

1.2 Fokus Penulisan

Fokus esai ini adalah integrasi antara perubahan zaman yang ditandai dengan sudah berjalannya revolusi industri 4.0, penguatan pendidikan karakter (PPK), literasi digital, dan implementasi integrasi pada mata pelajaran tertentu di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Tidak hanya berhenti pada integrasi tersebut, muara akhir atau solusi dari inovasi ini adalah menanamkan budaya anti korupsi yang merupakan salah satu wujud dari penguatan pendidikan karakter (PPK) yang kemudian dapat menjadi masukan di dalam perkembangan kurikulum Indonesia saat ini yang sekaligus menawarkan solusi menanamkan budaya anti korupsi melalaui dunia pendidikan sejak usia dini.

PEMBAHASAN

2.1 Piramida Proses Pembelajaran

Pada esai ilmiah ini, penulis memaparkan bagaimana proses pembelajaran dapat diserap dan diterima oleh seseorang dalam periode waktu 2 minggu.

Berdasarkan piramida pembelajaran di atas, setelah 2 minggu seseorang mampu menyerap 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% kombinasi dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang diungkapkan kembali, dan 90% dari yang diungkapkan kembali, serta dilakukan (Dale, 1969).

Hal ini berarti dengan membaca, mendengar, melihat, kombinasi membaca dan melihat hanya mampu memberikan setengah dari apa yang sudah diserap. Aktivitas-aktivitas ini termasuk menonton serta menyaksikan sesuatu yang ditampilkan di hadapan pembelajar. Aktivitas ini juga lazim dilakukan oleh banyak guru dan siswa di era kekinian, namun sekali lagi hal tersebut hanya memberikan setengah dari apa yang sudah diserap oleh peserta didik.

Bila ingin memperoleh hasil yang lebih maksimal lagi, peserta didik haruslah dilibatkan dalam partisipasi aktif, misalnya berdiskusi, berdialog, dan tak hanya sampai di situ saja, peserta didik juga harus melakukan simulasi dari apa yang sudah dibaca, didengar, dilihat, dan dibahas agar proses pembelajaran tersebut menjadi proses pembelajaran yang bersifat nyata (doing real thing).

 

2.2 Program PETAK

2.2.1 Deskripsi

Beranjak dari piramida pembelajaran ini, penulis menghadirkan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran yang mengintegrasikan antara mata pelajaran, penerapan literasi digital, serta penguatan pendidikan karakter dalam rangka menanamkan budaya anti korupsi sejak dini dalam ruang lingkup Kabupaten Deli Serdang.

Program ini diberi nama PETAK yang merupakan singkatan dari Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi. Pembelajaran ini melibatkan integrasi beberapa mata pelajaran yang ada di SMP, yakni Informatika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Mata pelajaran Informatika akan menjadi area kekuatan literasi digital dan kreativitas atau creativity, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi area inti anti korupsi melalui critical thinking, sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadi area komunikasi serta kolaborasi sehingga integrasi keseluruhan mapel ini sekaligus memenuhi tuntutan keterampilan abad XXI yang sedang gencar belakangan ini.

2.2.2 Penerapan

PETAK dimulai dari rancangan proses pembelajaran dengan pokok bahasan “Sebaran Korupsi di Indonesia” dan pokok bahasan ini dapat dikaitkan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang membahas tentang demografi penduduk Indonesia. Biasanya, demografi penduduk disajikan dalam bentuk diagram batang, dan hal inilah yang menjadi titik pusat inovasi pembelajaran oleh penulis agar demografi tersebut juga dimodifikasi menjadi demografi sebaran korupsi di Indonesia.

Pada tahap ini, guru menyampaikan pertanyaan yang menggugah peserta didik untuk berpikir kritis yakni dimulai dari tahap korupsi dan tindakan-indakan yang tergolong sebagai korupsi. guru menyampaikan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apa yang kamu ketahui tentang korupsi?
  2. Apa saja tindakan-tindakan yang tergolong sebagai korupsi?

Pertanyaan ini tidak dijawab langsung oleh peserta didik, namun guru meminta peserta didik untuk bekerja dalam kelompok serta memanfaatkan teknologi untuk memperoleh solusi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pembelajaran ini tentu saja membutuhkan aspek berpikir kritis. Salah satu cara untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah dengan menggunakan peta konsep (mindmap). Pemanfaatan teknologi yang dapat diterapkan untuk membuat peta konsep pemikiran itu adalah dengan menggunakan perangkat lunak atau software pembuat peta konsep pemikiran yang dapat diakses secara gratis dari http://mindmapfree.com/.

Dengan membuat peta konsep pemikiran mengenai korupsi dan tindakan-tindakan yang tergolong korupsi, peserta didik diharapkan sudah memiliki pengetahuan baru mengenai korupsi dan penggolongannya. Artinya, secara sadar ataupun tidak, peserta didik sudah menyimpan konsep tersebut setidaknya sebanyak 10-20%.

Untuk meningkatkan pemahaman lebih, peserta didik kemudian diminta untuk menciptakan sebuah peta mengenai persebaran korupsi di Indonesia. Melalui kerja kelompok, peserta didik diminta untuk mencari data atau informasi dari sumber yang terpercaya. Hal ini dilakukan dalam rangka menanamkan kesadaran para peserta didik untuk menghindari berita bohong atau hoax sekaligus menjadi integrasi perwujudan penguatan pendidikan karakter yakni jujur dan bertanggungjawab. Sebagai contoh, peserta didik memperoleh data sebagai berikut:

Berdasarkan data di atas, peserta didik diminta untuk menyampaikan apa yang menarik dari data tersebut dalam Bahasa Indonesia. Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk melakukan diskusi mendalam mengenai data yangs udah diperoleh dari sumber yang akurat dan terpercaya yakni laporan KPK. Dengan adanya dialog antara satu kelompok dan kelompok lainya, diharapkan akan meningkatkan daya serap informasi peserta didik hingga 70%.

Setelah berdialog, peserta didik diminta untuk membuat sebuah peta mengenai persebaran korupsi di Indonesia pada tahun tertentu. Mata pelajaran IPS menjadi kunci utama dalam tahap ini karena peserta didik diminta untuk menggambarkan Peta Sebaran Korupsi di Indonesia. Dengan kata lain, apa yang sudah diserap melalui apa yang mereka lihat (data), apa yang mereka dengar (diskusi), serta apa yang mereka bahas (dialog), diwujudkan dalam sebuah simulasi yang nyata (simulation on real experience). Berdasarkan data yang sudah diperoleh, peserta didik menggambarkan sebaran korupsi di Indonesia ke dalam sebuh peta Indonesia seperti pada gambar berikut:

Pembuatan peta ini dapat menggunakan bantuan software tertentu yang diakses bebas seperti https://www.scribblemaps.com/. Lantas timbul pertanyaan, integrasi dengan mata pelajaran Bahasa Inggris di mana? Di sini penulis menjawab bahwa dengan mengakses laman-laman pembuat peta konsep, juga pembuat peta, peserta didik akan berhadapan dengan laman yang berbahasa Inggris dan melalui ini, mereka dapat sedikit banyak mempelajari fungsi-fungsi serta fitur-fitur dalam perangkat lunak tersebut yang disajikan dalam Bahasa Inggris.

Pada akhirnya, pembelajaran dengan melakukan simulasi berdasarkan pengalaman nyata diharapkan akan mendongkrak penyerapan informasi yang lebih oleh peserta didik hingga mencapai 90%. Solusi dan hasil kerja peserta didik kemudian dikumpulkan melalui email ataupun unggah dokumen pada google form, dan hal ini tentunya akan berwujud positif pada perwujudan penguatan pendidikan karakter (PPK) khususnya anti korupsi. Karena dengan adanya batasan waktu penyerahan hasil tugas melalui pemanfaatan teknologi, diharapkan peserta didik mengurangi kebiasaan buang-buang waktu yang (barangkali) dalam wujud hidup nyata mereka terlihat dari adanya korupsi waktu, yakni memanfaatkan waktu yang seharusnya untuk bekerja dengan kegiatan lainnya yang tidak berhubungan.

PENUTUP

Inovasi pembelajaran Program PETAK (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi) tidak hanya berhenti di satu pokok bahasan saja, namun guru dapat mengembangkan serta memodifikasi pokok bahasan yang sudah ditetapkan di dalam kurikulum agar dapat terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi dan penguatan pendidikan karakter, sehingga penanaman budaya anti korupsi tidak hanya berhenti di satu pembahasan saja, namun dapat berlanjut terus hingga peserta didik semakin terbiasa dalam menanamkan sikap-sikap yang luhur yakni relijius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Sebagai ringkasan akhir, perwujudan budaya anti korupsi melalui integrasi dengan beberapa mata pelajaran dan penguatan pendidikan karakter dapat dituliskan sebagai berikut:

  1. Jujur dan tanggungjawa serta gemar membaca, dinyatakan dalam kegiatan mencari informasi yang akurat dan terpercaya serta menyebutkan sumber asli dari data atau informasi yang diperoleh.
  2. Kerja keras, kreatif, dan mandiri diwujudkan melalui kerjasama tim antar peserta didik dengan merancang sendiri konsep pemikiran mereka mengenai korupsi.
  3. Demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat, komunikatif, cinta damai, toleransi, dapat dilhat dari bagaiman siswa menyampaikan pendapat di hadapan kelomok lainnya, berdialog yang santun dalam menyelesaikan sebuah persoalan.
  4. Semangat kebangsaan, cinta tanah air, peduli lingkungan, peduli sosial terlihat dari bagaimana peserta didik menjelajah Indonesia melalui peta yang selama ini hanya dikenal dengan peta wilayah saja, namun tidak dikaitkan dengan fenomena memprihatinkan lainnya seperti sebaran korupsi di Indonesia.
  5. Dukungan terhadap program KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Indonesia terwujud melalui dunia edukasi, yakni membahas hal-hal yang mendasar dari korupsi, serta menanamkan budaya anti korupsi dengan cara mencegahnya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan di tingkatan sekolah dasar mapun menengah.

Sebagai penutup, inovasi pembelajaran dalam Program PETAK (Pembelajaran Terintegrasi Anti Korupsi) yang diberikan oleh penulis dapat juga diterapkan di mata pelajaran lainya yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia hingga saat ini. Rasa ingin tahu yang tinggi, kreativitas yang bermanfaat, dan kerja keras guru diharapkan dapat melahirkan inovasi-inovasi pembelajaran lainnya baik tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah.

Esai ini ditulis dengan Sub Tema “Gerakan Langsung Anti Korupsi sejak Usia Dini dalam rangka Peringatan Hari Anti Korupsi (HAKI) Kejaksaan Negeri Deli Serdang dan Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang tahun 2019

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dale, E., 1969. Audio-Visual Methods in Teaching. 3rd ed. New York: Holt, Rinehart & Winston.

Febri Diansyah, E. Y. D. F., 2011. Penguatan Pemberantasan Korupsi melalui Fungsi Koordinasi dan Supervisi, Jakarta: Indonesia Corruption Watch.

Kisno, 2019. Kapan Kebangkitan Pendidikan Indonesia (Lagi)?. [Online]
Available at: https://www.kompasiana.com/kisnoshinoda/5ce289c13ba7f72deb0b6373/kapan-kebangkitan-pendidikan-indonesia-lagi
[Accessed 28 11 2019].

 

Daring, Luring, Atau Blended Learning?

Daring, Luring, Atau Blended Learning?

Oleh : Richad Hamonangan Sinaga, S.Pd.*

 

17 Agustus 2020 lalu, rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75. Kata ‘merdeka’ juga dipakai oleh Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam slogan kebijakannya, yaitu “Merdeka Belajar”.

Walaupun sudah menginjak usia kemerdekaan ke-75, masih banyak masalah struktural yang terjadi di Indonesia, terlebih di tengah melandanya pandemi COVID-19. Salah satu masalah yang terjadi adalah proses kegiatan belajar mengajar yang harus dilakukan secara daring –bukan ”darting” alias “darah tinggi”– dan situasi “lockdown” bukan merdeka.

Kegiatan belajar mengajar secara daring memiliki dampak bagi guru, orang tua, dan siswa.

 

Dampak Daring

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran bertanggal 24 Maret 2020 yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat penyebaran corona virus. Kebijakan “Belajar dari Rumah” ini tepat untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. Dan E-learning menjadi salah satu inovasi menarik bagi perkembangan pendidikan saat ini.

Hal ini terlihat saat ditetapkannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Banyak sekali Guru dan siswa yang kewalahan –dan antusias— akan sistem daring. Banyak sekolah melakukan daring dengan aplikasi Google Classroom, Zoom dan Whatsapp.

Adapun kesan bingung bagi peserta didik dan guru saat pertama kali melakukan daring, tidak menciutkan mereka melakukan kegiatan belajar mengajar.

Namun, setelah kurun waktu 6 minggu dilakukan, ternyata banyak fakta baru yang dialami oleh guru. Guru kekurangan waktu mengajar dikarenakan waktu dalam mengabsen murid lebih banyak.

Kedua, ketidak-konsistenan murid, dan lamanya murid merespon pertanyaan yang guru berikan. Hal ini mengakibatkan guru tidak dapat menuntaskan silabus dan beberapa guru kesulitan dalam menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

RPP 1 halaman tidak cukup untuk meringankan tugas dari seorang guru, karena selain masalah waktu dalam mengajar, guru juga memiliki permasalahan kepada orangtua murid.

Kerugian yang dialami oleh orangtua murid, yakni harus membelikan anaknya sebuah handphone (HP) agar dapat mengikuti PJJ. Belum lagi aktivitas seorang ibu sebagai ibu rumah tangga (dan bekerja) mulai berkurang karena harus mendampingi anaknya saat mendapat tugas dari guru.

Orang tua juga harus mengeluarkan biaya pembelian kuota yang tidak murah. Selama proses kegiatan belajar mengajar secara daring, sebagian anak ada yang belum mengerti akan pelajaran. Waktu pembelajaran yang kurang dan ketinggalan mata pelajaran menjadi penyebab, sehingga anak harus les privat secara mandiri dan mengeluarkan biaya lebih.

Selanjutnya bagi peserta didik, dampak buruknya adalah perkembangan psikologis peserta didik. Ketika nanti mereka kembali ke sekolah, peserta didik cepat merasa bosan saat kegiatan belajar mengajar. Rasa malas yang mengakar, dan tidak berkarakter karena peserta didik merasa bebas karena selama ini tidak terikat peraturan yang ketat dari pihak sekolah.

Berdasarkan analisis penulis, bila kegiatan daring tetap dilakukan pada siswa tingkat TK, SD, SMP, SMA, maka dampak buruk yang diterima tidak sebanyak oleh siswa pada tingkat SMK.

Hal itu dikarenakan SMK adalah sekolah menengah kejuruan dengan sistem pembelajarannya adalah 40% teori dan 60% praktek. Siswa pada tingkat SMK seharusnya lebih banyak mendapatkan praktek dan bukan malah mendapatkan banyak teori.

Meskipun banyak dampak negatif dan kendala yang dialami oleh guru, orang tua, dan siswa, tampaknya Pak Nadiem tetap ingin menjadikan PJJ secara permanen.

 

Dampak Luring

Namun seiring banyaknya keluhan dari siswa-siswi, orang tua dan guru yang merasa bahwa kegiatan belajar mengajar dengan daring tidak efektif dan banyaknya daerah di Indonesia yang sudah dalam zona hijau dan kuning, banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa kegiatan belajar mengajar dengan sistem luring atau tatap muka tidak diberlakukan di zona hijau dan kuning.

Kita memang tidak bisa menyangkal bahwa Pak Nadiem sudah melakukan banyak sekali usaha untuk memulihkan sistem pendidikan yang merdeka. Salah satunya ialah dengan menciptakan Kurikulum Darurat COVID-19. Selain itu juga, kebijakan untuk membuka sekolah di zona hijau dan kuning di tengah pandemi ini sedang ia paksain.

Namun fakta berbicara ada 51 santri positif COVID-19 di Ponpes Gontor 2, Ponorogo, Jawa Timur; 5 guru Ponpes di Karawaci, Kota Tangerang, Banten; 35 santri Ponpes Sempon, Wonogiri, Jawa Tengah; 35 santri Ponpes di kecamatan Margoyoso, Pati, Jawa Tengah; 38 pembina dan 1 santri di Ponpes Parbek, Agam, Sumatera Barat; 1 guru dan 1 operator sekolah di Pariaman terinfeksi COVID-19.

Sederet kasus baru bermunculan, Pak Nadiem memutuskan agar pembukaan sekolah-sekolah di zona hijau dan kuning diberhentikan.

 

Blended Learning

E-learning menjadi salah satu inovasi menarik bagi perkembangan pendidikan saat ini. Tapi, realitanya penggunaan e-learning tidak cukup. Dari studi yang ada, kendala terbesar e-learning adalah interaktivitas langsung antara pembelajar dengan instrukturnya.

Kendala lain dari e-learning adalah menciptakan kesan kesendirian, sehingga mengalami kebosanan dalam belajar. Dalam setengah jam, seseorang mudah berpotensi menjadi pemalas dan tidak terlalu termotivasi untuk melanjutkan pembelajarannya.

Penulis memberikan solusi dengan menggunakan pembelajaran blended learningBlended Learning pada dasarnya merupakan penggabungan antara pembelajaran secara luring dengan pembelajaran secara daring. Sederhananya, perpaduan antara pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis.

Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran.

Blended learning adalah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online. Lebih dari itu, blended learning berfungsi sebagai elemen dari interaksi sosial untuk menumbuhkan karakter bagi siswa-siswi.

Dengan blended learning, peserta didik nantinya akan dapat berinteraksi dengan si pengajar. Pembelajaran bisa dilakukan secara online dan tatap muka langsung. Baik bagi peserta didik maupun pengajar saling mendapatkan feedback.

Saran kedua, apabila blended learning gagal, penulis menyarankan agar guru sebagai pengajar mendatangi peserta didik. Contoh, dalam satu kelas terdapat 20 siswa, dan hanya 5 siswa yang memiliki handphone. Siswa lainnya disarankan membentuk kelompok belajar dengan bimbingan dari guru kelas masing-masing.

 

Apa yang harus dilakukan?

Dengan adanya kelebihan dan kekurangan daring yang membuat sistem pembelajaran kita lebih modern namun tidak efektif di masa pandemi ini, dan kelebihan dan kekurangan luring yang membuat siswa mendapatkan kasih sayang dan pendidikan karakter dari guru namun sangat berisiko memperluas penyebaran COVID-19 ini, jadi, hal yang paling mungkin kita lakukan untuk membuat sistem pembelajaran kita efektif dan tidak membosankan sekarang ini adalah dengan mengganti model pembelajaran daring dengan blended learning.

Hal tersebut ditengarai dengan blended learning siswa tetap dapat melakukan physical ditancing atau menjaga jarak dan mendapatkan pengetahuan yang sepadan dengan kegiatan luring. Ataupun guru dapat mendatangi siswa agar tidak ada siswa yang ketinggalan pelajaran dikarenakan waktu yang terbatas dan tidak memiliki HP.

Bagi penulis, ini adalah solusi yang paling tepat diterapkan dalam keadaan saat ini.

 

Penulis merupakan pengajar Bahasa Inggris di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa.

Pandemi: Ekskul Bisa Apa?

Pandemi: Ekskul Bisa Apa?

Oleh : Agi Julianto Martuah Purba*

 

Pembelajaran daring masih berlangsung di sebagian besar Provinsi Sumatera Utara, salah satunya adalah SMP Swasta Methodist, Tanjung Morawa. Kira-kira sudah berjalan 5 minggu kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui Google Classroom.

Saya sebagai guru Bahasa Inggris di kelas 8 dan 9 masih merasa bahwa pembelajaran masih terasa kaku, dan membuat siswa menjadi mumet karena keterbatasan praktik dan penyampaian materi pembelajaran yang harus dilakukan via chat.

Untungnya, SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa gercep (gerak cepat) mengatasi hal ini, dengan menawarkan kegiatan yang lebih santai tetapi berbasis proyek, yakni kegiatan ekstrakurikuler Klub Bahasa Dan Seni Methodist (KBSM).

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah “mengasah kemampuan berbahasa yang standar dan kreatif”.

Adapun proyek yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah setiap siswa mampu menuliskan surat dari dirinya di tahun 2030 kepada dirinya sendiri pada saat ini, atau kami menyebutnya proyek “One student, One Letter.”

Fokus utama dari rangkaian kegiatan ini adalah agar siswa dapat mengisi irisan waktu kosongnya dengan belajar secara bebas dan santai, namun terarah pada orientasi proyek yang ingin dihasilkan.

Sebagai pengasuh utama dalam kegiatan ekstrakurikuler ini, saya meminta siswa untuk belajar menulis surat dengan melibatkan sikap reflektif dari dalam dirinya, agar mereka lebih sadar dalam mengenal dirinya sendiri.

Banyak orang yang mengaku salah jurusan semasa kuliah. Permasalahan utama pada kasus ini adalah bahwa mereka belum mengenal dirinya secara tuntas. Oleh karena itu, saat diperhadapkan dengan keadaan di mana dia diuntut membuat keputusan untuk memilih jurusan apa saat ingin berkuliah, nicaya mereka akan kebingungan.

Sebuah riset yang dilakukan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang fokus meneliti lebih dari 400.000 profil siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan fakta yang mencengangkan, yakni 92% siswa SMA/SMK sederajat bingung dan tidak tahu akan menjadi apa di masa depan — dan terdapat sekitar 45% mahasiswa merasa salah mengambil jurusan.

Oleh sebab itulah, kami mencoba untuk menanggulangi krisis pengenalan akan diri sendiri ini sejak dini, yakni saat siswa masih duduk di kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa hanya sekitar 12% siswa pada jenjang SMA/SMK yang telah paham akan menjadi apa dia kedepannya.

Artinya, mereka sudah tahu akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, bahkan sudah memiliki gambaran akan mengambil jurusan apa nantinya.

Bahkan dalam penelitian ini, mahasiswa juga tidak luput dari krisis pengenalan diri dalam memilih jurusan apa yang ingin digelutinya. Angka 45% juga masih terlalu besar untuk pribadi-pribadi yang akan berusia 20 tahun dan menyandang status sosial sebagai mahasiswa dan memiliki peran sebagai agen perubahan, namun masih gagal dalam memahami dirinya sendiri, bakat serta minatnya. Miris.

Projek “One Student, One Letter” yang diagendakan oleh SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa adalah salah satu upaya keikutsertaan institusi ini dalam mencegah krisis pengenalan diri pada siswa-siswanya melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan ini bukan hanya semata-mata untuk menulis surat reflektif dalam Bahasa Inggris lalu selesai begitu saja. Jauh daripada itu, kegiatan ini memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Tujuan jangka pendek proyek ini adalah untuk memberikan sikap adaptasi terhadap Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan (Kemendikbud) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Salah satu pokok penting dalam surat edaran ini adalah keputusan pembatalan Ujian Nasional (UN) tahun 2020. Oleh karena itu, surat-surat reflektif yang dituliskan siswa pada tahun 2030 kepada dirinya yang sekarang ke depannya akan dijadikan satu kesatuan dalam buku antologi ber-ISBN dan terdaftar di Perpustakaan Nasional.

Kami ingin siswa lulus dengan menghasilkan karya. Dengan peniadaan Ujian Nasional (UN), alhasil siswa tidak memiliki standar kelulusan dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) selain nilai-nilai ujian sekolah.

Melalui projek “One Student, One Letter”, kami memberikan opsi standar kelulusan siswa dengan wajib menulis surat reflektif untuk dibukukan atas nama mereka pribadi dan angkatan mereka.

Adapun tujuan jangka panjang dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan sikap kritis dan reflektif siswa terhadap dirinya sendiri lewat pengenalan akan dirinya sendiri.

Setelah dinyatakan lulus dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), mereka tidak akan dilanda kegalauan atau dalam bahasa kekininiannya disebut “quarter life crisis” yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan dirinya sendiri dalam memilih jurusan saat ingin berkuliah.

Melalui Kegiatan ekstrakurikuler berbasis projek “One Student, One Letter” ini, SMP Swasta Methodist hadir dan peduli pada masa depan para siswa.

Selepas tamat, mereka diharapkan mampu secara merdeka untuk menentukan ke arah mana mereka akan melanjutkan pendidikan. Tidak ada lagi keraguan, kebingungan, dan kegalauan terhadap dirinya sendiri.

Mereka telah merdeka untuk melanjutkan pendidikan kemana saja yang mereka inginkan dan merdeka dalam belajar apapun yang inginkan. Bagi kami, saat siswa mampu memutuskan ini secara sadar dan bahagia, mereka telah menjadi generasi Indonesia yang merdeka.

Siswa harus dibiasakan untuk berkarya sejak dini sebagai bentuk mereka berpartisipasi dalam menghasilkan karya, tidak hanya lagi sebatas menyaksikan karya orang lain.

Oleh sebab itu, buku antologi surat-surat siswa yang kami targetkan terbit adalah sebuah motivasi bagi mereka untuk menciptakan karya di bidang apa saja yang mereka minati. Saya sebagai pengasuh kegiatan ekstrakurikuler ini merasa harus hadir dan memfasilitasi mereka dengan cara memberi wadah untuk berkarya.

Di tengah era yang canggih ini, kejelasan adalah sebuah kekuatan. Lewat proyek “One Student, One Letter” yang bertemakan surat dari dirinya di 2030 kepada dirinya di masa sekarang, kami ingin menumbuhkan kesadaran reflektif pada diri setiap siswa kelas 9 pada Sekolah Menengah Pertama.

Kesadaran reflektif inilah yang menuntunnya semakin jelas mengenali minat dan bakatnya untuk diarahkan secara benar dan berkaitan satu sama lain. Kami yakin mereka akan menjadi generasi yang kuat dan siap beradaptasi dengan situasi zaman yang rentan berubah.

Hari ini siswa-siswi sudah dipatok dan didikte. Diikutsertakan bimbingan-bimbingan intensif sana sini, dibebani dengan target harus masuk perguruan tinggi negeri yang ternama, dan didikte dalam memilih jurusan kuliah tertentu.

Ini tidak hanya perkara menjadikan anak menjadi sebagaimana yang diharapkan oleh lingkungannya saja, namun ini juga tentang kebahagiaan mereka dalam memilih dan menjalani apa yang mereka ingin pilih dan jalani. Itulah pendidikan yang memerdekakan.

Ekstrakurikuler berbasis proyek “One Student, One Letter” bertemakan surat dari diriku di 2030 kepada diriku saat ini adalah langkah untuk menumbuhkan sikap reflektif dan kritis siswa terhadap dirinya sendiri sejak dini.

Dengan harapan mereka menjadi generasi yang merdeka dan bahagia.

 

Penulis merupakan Guru di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa.

Bahagia Belajar Semasa Pandekik, Mungkinkah ??

Bahagia Belajar Semasa Pandekik, Mungkinkah ??

Oleh : Ernawati Siahaan, S.Kom.

Dunia pendidikan sebelum pandemi Covid-19 dilakukan secara tatap muka baik dalam proses pembelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler atau kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Proses pembelajaran dilakukan mulai dari Senin sampai dengan Sabtu. Hal ini tergantung sekolah masing-masin, apakah 5 hari sekolah atau 6 hari sekolah.

Pembelajaran lazimnya dimulai dari pukul 07.00 sampai dengan 13.00 WIB dan akan dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler atau les tambahan hingga pada sore hari.

Pada minggu ke-3 Maret, virus corona mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam kesehatan individu dan aktivitas masyarakat. Virus tersebut membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua aspek kehidupan manusia.

Pandemi Covid-19, membawa perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Tadinya, belajar dengan tatap muka dan sekarang berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ/Daring/Online).

Belajar tanpa melihat siswa secara langsung merupakan hal yang  tidak mudah bagi seorang guru. Diski berdalih sedang membantu orangtua berjualan di pasar dan Ilbran beralasan habis paket.

Lain lagi Jaksa yang beralasan ketiduran dan banyak lagi alasan yang lain yang terjadi setiap harinya. Saya menjadi kesal, marah dan jengkel tetapi tidak tahu mau melampiaskan ke mana kemarahan saya. Kadang, saya senyum-senyum sendiri karena dibohongi oleh siswa.

Potret kisah di atas adalah ketidaknyamanan yang dialami guru dalam mengajar selama pandemi Covid-19 ini. Saya lakukan Video Call dengan siswa, menghubungi orangtua siswa serta mengingatkan siswa yang sudah aktif untuk menghubungi siswa. Saya bahkan menghubungi orangtua siswa yang kebetulan dekat dengan rumah siswa (tetangga) yang sering “hilang timbul” dalam pembelajaran.

Ketidaknyamanan yang lain, saya sering merasa tidak puas dalam mendidik para peserta didik di sekolah tempat saya bekerja karena tidak dapat menjangkau siswa-siwin saya secara langsung.

Saya tidak dapat menyentuh mereka secara langsung dalam proses pembelajaran. Saya tidak dapat melihat bagaimana ekspresi anak didik saya saat saya menjelaskan. Saya tidak dapat melihat siapa yang tidak menggunakan seragam sekolah, atribut sekolah dengan baik setiap harinya.

Saya rindu dengan wajah, keisengan, tingkah laku, protes, canda tawa pada saat pagi hari sebelum mulai proses pembelajaran. Tidak lupa juga rindu dengan suara yang riuh di kelas pada saat guru terlambat datang satu menit datang.

Namun demikian, ada sisi lain yang asyik yakni saya harus berusaha untuk menemukan cara yang unik dan lebih mudah untuk menjelaskan materi pembelajaran. Saya membuat video pembelajaran, komunikasi langsung dengan aplikasi WA dan Zoom atau Google Meet, Edmodo dan Google Classroom. Kadang saya menggunakan aplikasi Ms. Power point untuk membuat presentasi. Ini merupakan kenikmatan tersendiri yang saya rasakan.

Dengan adanya aplikasi komputer dan telepon pintar, proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Guru harus lebih banyak belajar aplikasi yang baru agar dapat memberikan materi pembelajaran yang lebih baik dan menarik.

Peserta didik harus lebih kreatif dan harus mampu mengembangkan materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Guru dan orangtua sebaiknya bekerjasama dan bersatu melawan Covid-19 ini dengan semangat.

Pembelajaran secara online/daring benar-benar memang berat dirasakan oleh para guru, peserta didik, dan orangtua peserta didik. Guru sering merasa kurang maksimal dalam menyampaikan materi pembelajaran begitu juga dengan para peserta didik  dalam menerima materi pembelajaran. Orangtua peserta didik mempunyai tugas tambahan dalam membantu anak-anaknya belajar, sementara mereka juga harus bekerja.

Transformasi dan adaptasi menjadikan peranan orangtua sebagai kunci keberhasilan untuk menghadapi situasi ini. Orangtua adalah pintu pertama pada perubahan ini. Orangtua yang menjadi mentor dan pendamping merupakan role model atau teladan perubahan sikap bagi anak-anak mereka.

Orangtua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah, sekaligus menanamkan pola berpikir yang positif. Pandemi ini adalah sebuah pola hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani dengan bijaksana.

Pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Pendidikan merupakan paspor untuk  masa depan, karena hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini.

Hal inilah yang diharapkan setiap  guru bagi semua peserta didik. Mereka harus menjadi orang yang mampu mengubah dunia ini menjadi lebih baik dan lebih maju lagi. Harapan setiap guru harus bisa membuat siswa-siswi mereka menjadi berhasil dan sukses

Semoga Covid-19 ini cepat berakhir. Kami, para guru, rindu dengan semua siswa-siswi kami di sekolah dan begitu juga sebaliknya. Semoga semua warga Indonesia senantiasa sehat dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali terutama dalam bidang pendidikan.

Penulis adalah Guru SD & SMK Swasta Methodist Tanjung Morawa

Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Is Reading Better Than Watching?

Is Reading Better Than Watching?

oleh : Mesti Perawati Sinamo

 

Today, many people, including children, prefer to watch rather than read. The reason they chose to watch was because they didn’t bother to think of every word that was printed.

And if you think about it, it is better to watch than to read, which makes us not have to imagine every incident experienced by the characters and no difficulty in understanding every word.

However, it must be reduced because watching can reduce our memory and make our brain lack imagination. According to research in Japan, reading can improve brain connectivity related to language and word processing. Not only that, there is also a long-term effect of reading a book that is to keep our minds sharpened and can delay senility in people who are elderly.

When reading, we will be challenged to focus our attention entirely on what we read. Many benefits when we read rather than watch are:

Reading can reduce stress because while reading we allow ourselves to enter into the pleasure of reading books.

  1. Reading makes your brain work better
  2. By reading we can feel every incident experienced by the characters
  3. Add to our vocabulary
  4. By reading we can make our brain imagine higher than the existing book.

Weakness of reading a book:

  1. Many people will get eye damage if they are reading frequently
  2. People will feel angry when disturbed when reading
  3. If you always read it can take up a lot of useless time

Reading is a window to the world. The term is very much called a person. Never said that watching was a window to the world. Reading also visual activity.

So in my opinion, reading is better than watching. Therefore we encourage all people who are here to multiply reading rather than watching. And make it a habit to read lots of books to increase our knowledge of things and make us know words that we never knew before.

Conclusion:

Reading is very important especially for children and adolescents. by reading we can broaden our horizons and make us imagine the events that were written in the book. if we watch, all the events are listed and we live to see it, and it’s not fun.

Kebijakan Siswa dalam Menghadapi Era 4.0

Kebijakan Siswa dalam Menghadapi Era 4.0

Oleh : Mesti Perawati Sinamo

Sekarang ini, sosial, budaya, ilmu pengetahuan bahkan teknologi sudah sangat maju. Revolusi semakin hari semakin berganti yang dari dulu revolusi era 1.0 menjadi 2.0 kemudian 3.0 dan sekarang  ini adalah 4.0. Era sebelumnya ditandai dengan tambahnya industri berbasis elektronik, teknologi informasi serta otomatisasi. Memang era inilah mulai ada internet namun dalam bentuk yang sederhana dan cakupan yang tidak luas. Semakin zaman terus maju  dan berkembang, internet mengalami banyak perubahan yang luar biasa. Mulailah internet maju pesat dan banyak diminati pada era 4.0 ini sehingga hanya sedikit orang yang tidak tau apa itu internet dan cara mengakses internet. Era ini jugalah dimana semua dengan mudah dilakukan tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Mengapa? Lihatlah sekarang, semua pekerjaan dengan mudah dilakukan melalui bantuan teknologi.

Berikut adalah pendapat para ahli mengenai ERA 4.0 ini:

  1. Era RI 4.0 dan selanjutnya akan melibatkan pekerjaan pada kemampuan sains, teknologi, teknik dan matematika, internet of things, pembelajaran sepanjang hayat sebanyak 75%. (Zimmerman, 2018)
  2. Revolusi Industri 4.0 dalam 5 tahun mendatang akan menyebabkan dampak dimana 35% jenis pekerjaan terhapus. Sedangkan 10 tahun akan datang ada 75% yang terhapus. (Karnawati, 2017)

Konsep Revolusi Industri 4.0 bahwa revolusi industri 4.0 mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. (Schwab, 2017)

Di Indonesia, Presiden dan pemerintahan Indonesia meresmikan adanya “Making Indonesia 4.0”. Dengan adanya ini, pemerintahan Indonesia memuluskan langkah untuk menjadi lebih maju lagi. Namun, ada hal yang harus ditingkatkan, yaitu:

  1. SDM
  2. Gaji pekerja
  3. Penegasan UU No 13 tahun 2013 tentang ketenagakerjaan.

Tingkat pemikiran dan Pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) harus bisa terus ditingkatkan untuk mengimbangi tujuan dan prinsip dari “Making Indonesia 4.0”. Dengan era ini Indonesia ingin mencapai target 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030, mengembalikan angka ekspor netto sebesar  10 %. Jika hal itu diabaikan, semua rencana dan target-target yang ingin dicapai akan hancur berkeping-keping. Oleh sebab itu, Indonesia mengharapkan generasi-generasi muda dan para siswa mampu untuk mewujudkan tujuan itu. Namun, banyak siswa yang bingung harus apa yang wajib dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.  Pertanyaan yang menjadi permasalahan dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa tantangan siswa SMA dalam era ini?
  2. Peluang/kesempatan apa yang dapat dimiliki setiap siswa SMA saat ini?

Zaman ini semua serba modern. Dampak kemajuan teknologi sangat terasa seperti seorang yang terkena sengatan listrik. Bahkan zaman sekarang sudah disebut sebagai era otomatisasi. Era otomatisasi adalah penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin yang secara otomatis melakukan dan mengatur pekerjaan sehingga tidak memerlukan lagi pengawasan manusia (dalam industri dan sebagainya).

Berikut berbagai macam pengertian otomatisasi menurut para ahli:

  • Otomasi adalah proses untuk mengontrol operasi dari suatu alat secara otomatis yang dapat mengganti peran manusia untuk mengamati dan mengambil keputusan. Sistem kontrol yang ada saat ini mulai bergeser pada otomatisasi sistem kontrol, sehingga campur tangan manusia dalam pengontrolan sangat kecil. Sistem peralatan yang dikendalikan secara otomatis sangat memudahkan apabila dibandingkan dengan sistem manual, karena lebih efisien, aman, dan teliti (Santoso, 2013).
  • Otomasi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang menuntuk  kepada para penggunanya untuk merubah mesin yang manual menjadi otomatis, sehingga dalam pengerjaannnya otomasi dapat mempermudah proses kehidupan yang ada (Anon, 2013).

Begitu banyak tantangan yang akan dialami siswa dalam era 4.0 ini baik itu mudah maupun susah, baik itu positif maupun negatif. Tantangan yang paling sulit adalah ketika teknologi semakin maju, semua informasi ada bahkan pengaruh globalisasi sangat terasa, di sini siswa harus mampu menyaring dan menanggapi semuanya itu dengan bijaksana dan melihat segalanya dengan berbagai sudut pandang agar tidak terjadi pemikiran yang salah . Selain itu, siswa diwajibkan untuk berpikir keras bagaimana membuat segala sesuatu bisa seimbang tanpa memperparah keadaan atau situasi yang ada di sekeliling agar tidak membuat masyarakat lain terbebani, serta siswa mampu menolak pengaruh globalisasi yang membuat dirinya hancur dengan seketika.

Di dunia ini, semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Bahkan  siswa pun memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Kelebihan inilah dapat digunakan siswa dalam mengahadapi era 4.0 ini. Dan dengan era inilah siswa dengan mudah menemukan yang ingin dicari. Jika dulu siswa sangat susah menemukan lokasi untuk melakukan sebuah penelitian, sekarang dengan mudah menemukannya. Era ini jugalah akan banyak kesempatan terbuka secara lebar kepada semua siswa jika siswa menyikapinya dengan bijaksana dan memikirkan semuanya secara mendalam dan lebih terperinci. Siswa akan lebih mudah memperdalam ilmunya, dengan mudah mendapat sebuah informasi yang kurang penting bahkan semua informasi terkini, dengan mudah mencari-cari informasi untuk melakukan riset penelitian, menciptakan sebuah teknologi yang bermanfaat, mengurangi pengangguran yang ada dengan cara yang menguntungkan dan masih banyak lainnya. Apalagi bagi kalangan siswa jurusan SMA, akan lebih mudah mengetahui setiap yang diajarkan dalam sekolah.

Bahkan ketika siswa tersebut mau menjadi dokter, ia akan lebih mudah untuk mempelajari materi kedokteran karena siswa tersebut tinggal mencari materi yang berkaitan dengan kedokteran. Namun, siswa juga harus bijaksana ketika menciptakan sebuah teknologi agar keseimbangan tetap terjaga. Misalnya, seorang siswa mampu menciptakan robot/mesin tanpa memperhatikan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang ada, maka bagi para pekerja akan kehilangan pekerjaan dan  membuat pengangguran semakin bertambah. Hal ini karena tugas yang seharusnya dikerjakan oleh manusia sudah tergantikan oleh mesin atau robot yang lebih berkualitas lagi. Juga siswa harus bijaksana dalam menanggapi dan menerima informasi yang ada. Jangan langsung menerimanya secara langsung karena itu bisa saja informasi hoax. Hoax yang ada dapat menimbulkan pertentangan, demonstrasi bahkan perkelahian yang merugikan banyak orang. Misalnya, saat terjadi percecokan dan tersebar sebuah informasi yang kurang bagus dan langsung dipercaya banyak orang, hal itulah akan membuat satu kelompok dengan kelompok lain menimbulkan perkelahian bahkan saling membunuh satu sama lain.

Jadi, era 4.0 adalah sebuah revolusi dimana IPTEK mulai semakin berkembang pesat sesuai zaman yang terus berkembang. Dan tidak masalah jika era ini menjadi era otomatisasi namun, harus seimbang dengan kehidupan agar semuanya, robot bahkan manusia dapat bekerja. Dan dalam era inilah diperlukan kebijaksanaan siswa dalam menyikapi dan menghadapi era 4.0, cara pandang siswa mengenai era 4.0, mempergunakan kesempatan yang terbuka lebar dengan sebaik mungkin, membuka kesempatan selebar mungkin bagi siswa yang tak memilikinya, mengurangi tindakan kejahatan di negaranya, dan membuat era 4.0 ini semakin maju dan berkembang dengan positif, karena para siswa lah yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Karena, jika tidak mengikuti dan menjalani era 4.0 ini dengan bijaksana, maka generasi sebuah negara sudah hancur, serta  takkan  ada yang dapat memujudkan tujuan sebuah negara.  Jadi, boleh dikatakan semua rencana-rencana yang sudah dirancang negara langsung hancur seketika akibat kurangnya kepedulian penerus bangsanya.

 

Daftar Pustaka

Anon, 2013. Indonesiastudents. [Online]  Available at: https://www.indonesiastudents.com/3-pengertian-otomasi-menurut-para-ahli-dan-macam-macamnya-lengkap/[Accessed 27 September 2019].

Karnawati, P. D., 2017. artikelsiana. [Online]  Available at: https://www.artikelsiana.com/2019/01/revolusi-industri-40-pengertian-ciri-dampak-tantangan-industri-40.html [Accessed 01 Januari 2019].

Santoso, 2013. Indonesiastudents. [Online]  Available at: https://www.indonesiastudents.com/3-pengertian-otomasi-menurut-para-ahli-dan-macam-macamnya-lengkap/[Accessed 27 September 2019].

Schwab, K., 2017. artikelsiana. [Online]  Available at: https://www.artikelsiana.com/2019/01/revolusi-industri-40-pengertian-ciri-dampak-tantangan-industri-40.html [Accessed 27 September 2019].

Zimmerman, 2018. artikelsiana. [Online]  Available at: https://www.artikelsiana.com/2019/01/revolusi-industri-40-pengertian-ciri-dampak-tantangan-industri-40.html [Accessed 27 September 2019].

 

Esai Ilmiah ini memenangkan Peringkat II Lomba Esai Ilmiah Dies Natalis Universitas HKBP Nommensen ke-65 tahun 2019 Kategori Ilmu Sosial

David Lee, Sang Lilin Penerang

David Lee, Sang Lilin Penerang

Oleh : Silfana

Maukah kalian menjadi lilin di gelapnya keadaan?

Bagi orang yang mengenalnya, David Lee adalah seperti lembaran-lembaran buku rusak yang memberikan pengajaran. Persis seperti jalan hidupnya yang berbatu-batu, namun berhias mutiara di akhir jalannya.

David Lee atau yang sering dipanggil dalam kesehariaanya dengan nama David, memiliki suatu hal yang dapat dijadikan inspirasi. Di bangku sekolah dasar David kecil disekolahkan oleh ayahnya (Lee Kim Thian) di kampung karena ayahnya bekerja di kampung yang sangat jauh dari jangkauan kota.

Lee Kim Thian bekerja sebagai petani pengurus cokelat dan kelapa petani di bawah pimpinan perusahaan Inggris. Bercerita tentang kehidupan Lee Kim Thian, keluarganya juga jauh dari kata mampu. Untuk belajar, Lee dan adik-adiknya harus menggunakan lilin karena pada saat itu, lampu tidak ada. Hanya orang kaya saja yang menggunakan lampu.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok, mereka harus menahan sakitnya lapar. Namun, Lee tahu bahwa sekolah dan pelajaran itu sangat penting. Oleh sebab itu, Lee rela tidak sekolah dan harus bekerja demi menyekolahkan adik-adiknya. Hasil dari kerja keras Lee menuai hasil yaitu adik-adiknya dapat bersekolah hingga sukses sampai saat ini. Itulah mengapa Lee sangat mendorong David dan saudara-saudaranya David untuk tekun belajar.

David Lee, lahir di Kuala Lipis, Pahang, Malaysia 21 Januari 1963 dengan nama asli David Lee Wee Keong tidak bisa tidak melibatkan kesesakan di hati. Bayangkan pada usianya yang ke-12 tahun menduduki bangku SMP David dan adiknya yang pada saat itu berumur 10 tahun harus melanjutkan pendidikan di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Mereka berdua menempati rumah sewa dengan satu pembantu. Jarak ibukota Malaysia dengan kampung mereka sangat jauh dan juga biaya sangat mahal untuk bepergian sehingga untuk melepas rindu orangtua David hanya mampu mengunjungi sekali sebulan itupun jika kantong berisi.

Jauh dari keluarga mengharuskan David dan adiknya untuk hidup mandiri, disiplin, rajin belajar, dan tidak menyia-nyiakan waktu dan uang yang ada. Sekolah yang ditempati David dan adiknya bernama “Bukit Bintang”. Sekolah itu merupakan Swasta Kristen terbaik di Malaysia.

Bahasa yang digunakan di sekolaha adalah Bahasa Melayu. Bahasa Inggris jarang digunakan karena susah. Tetapi, orangtua David ingin anak-anaknya lebih maju lagi dalam pendidikan. Lulus dari  SMP, David dan adiknya dikirim ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan lagi.

Belum habis luka dan sesak di hati akibat jauh dari keluarga, muncul lagi sesak yang lebih dalam lagi karena jarak Inggris dengan Malaysia ialah 10.588 km. Tak mungkin dengan keterbatasan dana, David masih mampu melepas rindu setiap sebulan sekali.

Namun, empat tahun atau lima tahun sekali baru David dan adiknya boleh melepas rindu kepada keluarga. Teknologi telepon memang sudah ada saat itu. Namun, biaya menelepon lewat telepon umum harganya Rp. 100.000,- mahal bukan?

Pernah suatu kali akibat rindu yang sudah tidak dapat dipendam lagi, David dan adiknya memberanikan diri untuk menelepon melalui telepon umum. Balasan apa yang diperoleh? “Kemarahan” dari orangtua mereka.

“Jangan menelepon kalau tak penting, mahal tahu ini telepon kalau diguna! Kirim surat aje, Kalau rindu juga tahan aje yang penting sukses!”, Lee Kim Thian berkata. Sementara, surat butuh waktu 3 minggu untuk sampai. Itulah hal yang harus David lewati .

Wellington School adalah sekolah dimana David mendaftar. Sekolah itu merupakan asrama yang bertempat di Wellington Somerset, England. Bukan hanya harus menahan rindu namun, David juga harus menghadapi tekanan demi tekanan yang ada di sekolah.

Sekolah itu merupakan sekolah yang kebanyakan muridnya ialah orang Inggris asli dan hanya sedikit orang Asia. David sering mengalami perundungan (bully) dan tidak disukai karena berbeda ras. Namun, hal itu tidak membuat David putus asa, dia terus bertekun untuk belajar sehingga dia selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya. David lulus SMA dengan nilai-nilai terbaik di kelas Science-1.

David melanjutkan kuliahnya sarjana di Sheffield University, England. Ia mengambil Jurusan teknik sipil selama 3 tahun. Kemudian ia melanjutkan pendidikan S2 di Bradford University, England dengan konsentrasi Manajemen Bisnis selama 1 tahun.

Di kota Bradford inilah David bertemu dengan pasangan hidupnya yaitu Jacey Lee. Dari pernikahan mereka, mereka dikaruniai 2 orang putera. Selama David hidup di Inggris hingga punya anak, David sangat jarang pulang ke kampung halamannya. Namun, bila ada waktu dia pulang membawa keluarganya ke kampung halaman.

David bekerja sebagai arsitek dengan pemerintah di Bradford. Gajinya selama bekerja ialah senilai Rp. 80 juta per bulan. Istrinya Jacey Lee bekerja sebagai salah seorang perawat di rumah sakit Bradford ternama. David dan istrinya tetap bekerja di Inggris hingga suatu kali Tuhan memanggil mereka untuk berhenti bekerja dan melayani di Indonesia. Tuhan menyuruh mereka untuk hidup dengan iman.

Pada tahun 2004, mereka datang pertama kali ke Indonesia yaitu Aceh untuk membantu orang-orang Aceh yang terkena tsunami. Pada tahun 2006, mereka datang ke Batam dan merencanakan untuk membangun sebuah panti asuhan yang menolong anak-anak yang kurang mampu untuk bersekolah.

Pada tahun 2007, sebuah panti asuhan di Batam selesai dibangun dengan nama HOS (House of Shalom). Tidak hanya itu, David dan Jacey juga membangun panti asuhan di Medan pada tahun 2012 dan panti asuhan di Filipina, Ilo-Ilo pada tahun 2016. Mereka juga membangun gereja-gereja yang dinamakan Shalom Church.

David dan Jacey sudah membantu 160 anak-anak untuk sekolah hingga kuliah. David dan Jacey juga membantu sekitar 300 orang yang miskin dalam perjalanan mereka di ruli (rumah liar). Hingga saat ini mereka terus melayani dan membantu orang-orang.

Salah satu anak dari panti asuhan tersebut ialah saya sendiri. Mereka datang menolong saya untuk sekolah saat kehidupan keluarga saya jauh dari kata mampu. Mereka datang ke Indonesia dan rela meninggalkan hidup mereka di Inggris demi membantu orang-orang yang keadaannya gelap (baca: miskin).

Perjuangan David sarat akan kesesakan dan tekanan, namun mutiara menghiasi perjuangan tersebut di akhir jalan. Hal itu yang menjadi motivasi anak-anak yang ditolong untuk berjuang dan belajar walaupun kami tinggal jauh dari keluarga.

“Lilin penerang dalam gelap”, begitulah makna hidup David bagi saya.

 

Oleh Silfana

Penulis adalah siswa kelas XI di SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa T.P. 2020/2021

 

Andaikan Pandemi Tak Lekas Berlalu

Andaikan Pandemi Tak Lekas Berlalu

Oleh : Sudianto, S.S

“Berapa lama lagi Corona ini bisa berakhir? Sampai kapan Pak kita masih harus belajar daring?” Begitulah pertanyaan salah satu orang tua murid kepada saya. Pertanyaan sama ini juga muncul bagi banyak orang.

Sampai hari ini pandemi sudah berlangsung kurang lebih 5 bulan dan pandemi ini datang ibarat pencuri yang datang begitu saja. Kegiatan ekonomi selama lebih kurang 3 bulan hampir terhenti. Salah satu yang paling merasakannya adalah sekolah terutama para orang tua dan guru.

Jika saya harus jawab jujur atas pertanyaan di awal tadi, maka saya berkata kalau bisa lebih lama, lebih baik. Mengapa demikian? Bagi saya pandemi ini adalah blessing in disguise. Sebelum saya bahas panjang lebar akan hal ini. Marilah kita amati kemajuan pendidikan khususnya guru sebelum dan saat pandemi.

Sebagian guru sudah terjebak dengan zona nyaman mereka, terutama guru-guru yang bersertifikasi. Secara finansial, kesejahteraan mereka lebih terjamin karena adanya tunjangan pemerintah sebesar Rp. 1.500.000,-/bulan, dan bagi yang inpassing malah menerima lebih besar.

Sayangnya, besar tunjangan tersebut tidak diimbangi dengan motivasi belajar yang tinggi sehingga yang sering terjadi adalah rasa enggan untuk belajar hal baru. Padahal, arus globalisasi saat ini menuntut dunia terus berubah secara masif.

Hal ini nyata terjadi ketika program literasi dicanangkan di sekolah. Sebagai langkah memantapkan guru dalam program ini, sekolah berkesempatan bekerjasama dengan Room to Read dan Putera Sampoerna Foundation – School Development Outreach.

Saya memilih guru-guru sebanyak 12 orang dan 7 di antara mereka adalah guru bersertifikasi. Mengejutkan! Lebih dari setengah di antara mereka menolak kegiatan ini dengan alasan mereka sibuk dengan tugas administrasi sekolah.

Ironis memang, peran guru sebagai pengajar malah tidak diimbangi dengan kemauan belajar. Ini malah lebih sering terjadi pada banyak guru yang sudah lama mengajar dan bahkan bersertifikasi.

Guru tersebut “amnesia” akan usaha dan kegigihan mereka ketika mengejar gelar sarjana pendidikan dan saat mengikuti dan menyelesaikan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru).

Serifikasi telah mereka raih tetapi motivasi belajar malah menurun.  Dulu, apapun itu baik waktu, tenaga, pikiran bahkan uang dikorbankan demi mendapatkan gelar dan lulus sertifikasi. Sekarang, hitung-hitungan dan mengeluarkan sejuta alasan ketika harus menuntut ilmu.

Inilah yang menurut saya menghambat program merdeka belajar dari Mas Menteri. Tidak heran, pendidikan di Indonesia tidak beranjak maju. Kalaupun ada, hanya sekolah-sekolah unggulan di kota besar saja yang menunjukkan kehebatannya di Indonesia, bahkan di kancah internasional. Itupun hanya sebagian kecil dan tidak merepresentasikan kemajuan pendidikan Indonesia secara keseluruhan.

Tak heran, laporan hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2018 menunjukkan kompetensi Matematika dan Sains siswa kita masih rendah. Skor negara kita cenderung stagnan, bahkan mengalami penurunan. Buruknya lagi, skor negara kita hanya 371, jauh tertinggal dari rerata negara-negara peserta PISA yakni 487.

Tahun 2018 pemerintah menaikkan anggaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) sebesar Rp79,6 Triliun dari sebelumnya Rp 75,2 Triliun.

Porsi terbesar, sejumlah Rp 58,3 Triliun diberikan kepada 3,9 Juta guru PNS dan sisanya diberikan kepada guru swasta. Pemerintah sangat memperhatikan kesejahteraan para guru dan berharap guru bisa menjadi penggerak memajukan pendidikan di Indonesia.

Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas diri guru itu sendiri. Keengganan belajar sebagai salah satu faktor yang memicu pendidikan di Indonesia stagnan. Guru selalu memerintahkan muridnya untuk belajar giat, tapi dia sendiri boro-boro giat, belajar saja tidak mau.

Selain itu, pemimpin tertinggi sekolah alias kepala sekolah juga punya andil dalam keterpurukan ini. Kepala sekolah berperan bukan hanya sebagai manajer, administrator, motivator, supervisor tetapi juga sebagai pemberi teladan.

Hal ini sesuai dengan yang pernah dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara yang berbunyi Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, memberi contoh tindakan). Kalau guru dan kepala sekolah saja tidak mau belajar, percayalah kemajuan pendidikan tinggal angan-angan.

Kondisi ini diperburuk lagi oleh budaya senioritas dalam bekerja yang masih ditonjolkan. Jika ada rekan guru baru yang mau belajar mengembangkan diri, mereka disepelekan dan dianggap “cari muka”. Ketika “guru kemarin sore” berhasil meraih prestasi malah diremehkan. Golongan senior nyinyir dan iri atas pencapaian mereka (crab mentality).

Namun, situasi pandemi sekarang malah memberi angin segar. Semua guru belajar; banyak video youtube berbahasa Indonesia seputar pembelajaran jarak jauh yang lahir dari para guru.

Banyak guru berlomba mulai membuat konten-konten edukatif. Di sini terlihat kesungguhan guru-guru yang mau belajar untuk berkarya dan berinovasi. Beberapa di antara mereka juga mulai ramai dengan subscribers dan penonton. Ini adalah bukti karya mereka bermanfaat.

Guru tidak punya pilihan lain selain beradaptasi dengan teknologi selama masa pandemi ini. Sebagai contoh, channel yang masih produktif dan ramai dengan penonton saat ini yaitu Refo Indonesia. Per Desember 2018, mereka “Cuma” punya 12 video dan hanya ditonton paling banyak 26 penonton.

Takjubnya, per Agustus 2020 jumlah penonton Refo Indonesia sudah mencapai 521.457 dan mereka sudah memiliki lebih dari 80 video yang juga diisi oleh para tenaga pendidik Indonesia.

Sense of crisis dari guru-guru timbul pada masa-masa seperti ini. Suka atau tidak, guru harus belajar. Guru yang melek teknologi akan langsung mencari tutorial dari google ataupun youtube. Sedangkan, guru yang tidak, akan belajar dari rekan kerja ataupun kelas-kelas belajar yang dilaksanakan di sekolah.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Program-program belajar dari rumah, karya Kemdikbud, juga terus dikembangkan. Salah satu yang patut mendapat apresiasi adalah laman Guru Berbagi yang diluncurkan pada 31 Maret 2020.

Hingga tanggal 24 Agustus 2020, laman ini menghasilkan hampir 16.000 RPP. Selain itu, pengguna aktif dari kalangan guru maupun praktisi pendidikan bertambah menjadi hampir 123.000. Secara keseluruhan laman Guru Berbagi telah diakses sebanyak lebih dari 28 juta pengguna.

Kehadiran laman ini menolong banyak guru di Indonesia dalam merancang pembelajaran yang kreatif selama PJJ walaupun tidaklah 100% solutif. Angka-angka di atas menunjukkan arus gelombang berbagi yang begitu antusias di antara para tenaga pendidik bahkan kalangan lintas profesi dari bidang teknologi atau pendidikan. Jelas ini sebuah pencapaian dan hal positif yang patut disyukuri.

Budaya kolaborasi, atau kita kenal sebagai gotong royong secara masif hadir di tengah pandemi. Hal ini juga adalah salah satu kecakapan abad ke-21 yang penting. Bagi kita, ini  bukanlah hal baru tetapi merupakan warisan budaya karakter bangsa kita yang perlu kita tetap teladani hingga sekarang. Itu sebabnya, saya berkata ini sebuah berkat terselubung (blessing in disguise).

Alfred Toffler berkata “Buta huruf di Abad ke-21 bukanlah orang yang tak bisa baca-tulis, tapi orang yang tak bisa belajar (learn), melepaskan yang diketahui (unlearn) dan belajar ulang hal baru (relearn)”. Perkembangan dunia saat ini sedemikian dinamis, jika guru tidak memiliki motivasi belajar, maka guru harus siap menghadapi keterpurukan.

Dengan budaya gotong royong dibarengi dengan motivasi belajar, guru akan mampu mengayunkan dayung bersama menerjang badai. Pandemi ini tidak boleh dipandang sebagai musibah semata. Mari kita menyikapinya dengan bijak untuk melompat bersama dalam memajukan pendidikan Indonesia. Inilah makna merdeka belajar yang harus dimiliki oleh para guru. Akankah guru tetap berkolaborasi dan belajar setelah pandemi berlalu?

 

Sudianto, S.S.

Kepala Sekolah SD Swasta Methodist Tanjung Morawa

Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

(35 – 42 – 50) GB: Gelora Bahagia/Bijaksana

(35 – 42 – 50) GB: Gelora Bahagia/Bijaksana

Oleh : Kisno, M.Pd.

“Sumpek, gara-gara Corona malah aku yang belajar. Mana jualan kurang lancar, bagaimana aku membayar uang sekolah anak? Belum lagi kuota untuk tiga anak saya!” begitulah sekilas keluhan yang terdengar dari seorang ibu rumah tangga di sebelah rumah saya.

Omelan-omelan dengan versi lain kerap terdengar di telinga saya. Omelan tersebut seakan-akan menyentil saya bahwa ada tanggungjawab yang besar sebagai seorang pengajar di masa pandemi saat ini.

Lain lubuk, lain pula ikannya. Persoalan Pembelajaran Jarak Jauh memiliki keterbatasan berdasarkan kondisi geografis. Di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar)titik nadirnya adalah kepemilikan gawai. Lebih dalam lagi, jangankan kepemilikan gawai, akses internet saja masih sulit.

Omelan, keluhan, dan gambaran permasalahan tadi adalah gambaran mikro dari rentetan-rentetan permasalahan pendidikan di Indonesia. Andai dituliskan dalam daftar, tentu saja akan menjadi kitab kumpulan permasalahan yang diakibatkan dari pandemi Corona.

Corona memang tidak bisa luput atas dasar negara, ras, bahkan kekebalan tubuh manusia. Sebaliknya, apa yang luput adalah bagaimana perspektif dan cara manusia dalam menghadapi pandemi tersebut.

Luput, mulai dari kelakar bahwa Corona tidak akan sampai ke Indonesia. Tak luput pula, saat negara lain sudah melakukan lockdown, Indonesia masih santai hingga World Health Organization (WHO) menyurati Indonesia untuk menetapkan Corona sebagai bencana nasional. Perspektif individu terkadang luput bahwa di balik bencana, ada sebuah hikmah yang terselubung.

Terobosan Pemerintah dan Masyarakat

Berbagai kebijakan dirumuskan dan diterapkan khususnya dalam sektor pendidikan. Tayangan program-program yang menarik melalui TVRI (Kompas 20/04) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi salah satu alternatif solusi yang ditawarkan.

PJJ memang tepat diberlakukan untuk daerah perkotaan atau daerah padat penduduk seperti wilayah perkotaan. Salah satu pencegahan Corona adalah dengan Social atau Physical Distancing dan PJJ sangat mendukung salah satu langkah pencegahan Corona.

Sebelum ada pandemi Corona, pegiat pendidikan dan guru di daerah 3T juga sudah melakukan PJJ. Mereka harus menempuh jarak yang jauh untuk menjangkau peserta didik yang berada di wilayah 3T.

Kegigihan dan keihkhlasan pegiat pendidikan atau guru dengan filosofi “Jauh tak berjarak, dekat tak bersentuhan” sudah menjadi keseharian mereka. Tak peduli dengan jarak, niat baik mereka dalam mewujudkan amanat UUD 1945 yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa” tetap terwujud, bahkan sebelum pandemi Corona ada.

Ada juga solusi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pembelian pulsa dan kuota internet. Hal ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19 Tahun 2020 tentang fleksibilitas penggunaan dana BOS (Kompas 09/06). Solusi ini bahkan mencakup pemberian honorarium guru semasa pandemi.

Kemdikbud juga mengeluarkan pedoman pelaksanaan kurikulum dalam kondisi tertentu sebagai acuan guru dan sekolah selama PJJ dalam pandemi Corona.  Pedoman ini dituangkan dalam Kepmendikbud Nomor 719/P/2020.

Ada tiga prinsip “merdeka belajar” dalam pedoman pelaksanaan kurikulum ini yakni satuan pendidikan boleh 1) tetap mengacu pada Kurikulum Nasional; 2) menggunakan kurikulum darurat; atau 3) melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri (Kemdikbud 07/08).

Solusi ini ternyata sudah dilakukan jauh sebelum kondisi pandemi. Sanggar Anak Alam (SALAM) telah ada sejak tahun 1988 di Desa Lawen dan dihidupkan kembali oleh Mas Toto Rahardjo dan Sri Wahyaningsih di Kelurahan Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta pada tahun 2000.

SALAM menggunakan kurikulum secara mandiri. Fakta yang menarik adalah peserta didik memang benar-benar belajar dengan model “out of the box”. Selama ini, barangkali mendengar kata “sekolah”, kita diarahkan pada pemikiran akan sebuah gedung yang penuh akan aktivitas pembelajaran antara guru dan peserta didik.

SALAM tidak demikian halnya. Guru, peserta didik, bahkan orangtua dilibatkan dalam proyek kolaboratif. Bahkan di tengah pandemi, SALAM memberikan pembelajaran Physical Distancing melalui teknik menanam padi. Sederhana saja, kalau padi ditanam terlalu rapat jaraknya, tentu saja akan membuahkan hasil yang kurang maksimal, sehingga perlu “jarak” antara bibit padi antara satu dengan yang lain.

Saya tidak menghakimi bahwa solusi yang diberikan oleh Kemdikbud gagal, namun menurut saya harus lebih inovatif dari solusi yang ditawarkan dari SALAM, Sekolah Rimba, dan alternatif lainnya.

Tak putus asa, Kemdikbud bekerjasama dengan tiga Kementerian lainnya mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri pada awal Agustus 2020. Poin utama dari SKB ini adalah pelaksanaan pembelajaran secara zonasi berdasarkan sebaran infeksi Corona di setiap wilayah.

Zonasi terbagi dalam empat kategori yakni Zona Hijau, Zona Oranye, Zona Kuning, dan Zona Merah. Wilayah yang masuk dalam kategori Zona Hijau dan Oranye dapat melakukan pembelajaran secara tatap muka dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (Setkab 07/08).

Angin Segar: Bantuan Kuota

Ketuk palu dari hasil Rapat Kerja (Raker) Bersama bersama Komisi X DPR RI di MPR/DPR RI di Senayan pada 27 Agustus 2020 menghasilkan sebuah Gelora Bahagia (GB). 9 triliun dana akan dikerahkan untuk kuota atau pulsa bagi siswa, guru, mahasiswa, dan dosen.

Bantuan kuota dan pulsa ini berlaku mulai September hingga Desember 2020. Secara terperinci, setiap bulan siswa akan mendapat 35 GB per bulan, kemudian guru akan mendapat kuota 42 GB per bulan, dosen dan mahasiswa akan mendapat kuota 50 GB per bulan (Detik 27/08).

Angin segar ini perlu ditindaklanjuti oleh masing-masing satuan pendidikan. Jangan sampai semua berebut Zoominar secara bersamaan. Kaji dan tentukan kapan satu mata pelajaran (mapel) tertentu akan menggunakan tatap muka secara daring agar tidak terjadi tumpang tindih presentasi antara satu mapel dengan mapel lainnya.

Selain itu, kesadaran (konsientisasi) juga perlu bagi orangtua dan peserta didik. Kebagian kuota akankah dipergunakan dalam pembelajaran atau dalam hal lainnya? Misalnya game (permainan) dan distraksi-distraksi lainnya seperti interaksi media sosial yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Epilog

Sebuah pertanyaan menggelitik dalam benak saya adalah “Apakah bantuan kuota dan pulsa ini sudah tepat?” Saya menjawab “Sudah” bagi daerah yang memiliki akses internet dan kepemilikan gawai yang sudah mumpuni. Namun, “Bagaimana dengan daerah 3T yang tidak memiliki akses internet? “

Alangkah baiknya, kucuran dana yang “lumayan” besar ini diwujudkan dalam zonasi juga. Untuk daerah yang akses internetnya sudah baik, kebijakan ini dapat diterapkan. Untuk daerah 3T perlu ada transformasi “merdeka belajar”, apakah diwujudkan dalam pembangunan infrastuktur seperti balon udara untuk akses internet, atau insentif bagi pejuang pendidikan jarak jauh.

Gelora Bahagia atau Bijaksana (GB) tidak hanya dinikmati oleh guru atau pejuang pendidikan di wilayah perkotaan, namun juga di wilayah 3T. Hal ini juga sekaligus mewujudkan prinsip “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Singkatnya, angin segar dari Kemdikbud dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagai penutup, kembali kepada perspektif dan mentalitas individu. Mengeluh memang menjadi salah satu solusi negasi, namun kembali ke hakikat pendidikan hadap masalah (problem-posing education). Tidakkah dalam keluhan sekalipun kita masih mampu berpikir kritis untuk memecahkan masalah kehidupan? Bukankah pendidikan itu pada hakikatnya berawal dari keluarga dan lingkungan sekitar?

Berapa banyak kreativitas penyajian pembelajaran yang tumbuh dalam pandemi Corona? Seberapa mampu kita mentransformasi perspektif kita dalam menghadapi masalah? Apakah problematika (pendidikan) menjadi tanggungjawab pemerintah atau justru pribadi kita yang menghadirkan solusi? 35-42-50 adalah bantuan dalam dunia maya. Apakah kita bergantung pada dunia maya seterusnya? Mari berbahagia, mari bercermin kembali, merenung dan bertindak dalam kebijaksanaan.

 

Penulis adalah Sie. Kurikulum di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa dan Pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi dan Manajemen Indonesia (STAMI), Sumatera Utara.

 

 

 

Jack Ma, si “Trilion Hou”

Jack Ma, si “Trilion Hou”

Oleh : Mesti Perawati Sinamo

Tak pernah kenal kata menyerah. Sadar akan kekurangan yang Jack Ma miliki, ia tidak patah semangat, berjuang dan tetap berjuang dalam meraih impiannya. Banyaknya tantangan dan kendala yang singgah ke kehidupannya tidak membuat ia menyerah begitu saja. Justru hal itulah yang memberikan semangat kepadanya untuk selalu berjuang sampai ia menjadi pengusaha sukses yang berhasil merintis bisnisnya dari nol.

Lelaki kelahiran Hang Zhou, Tiongkok pada 10 November 1964 yang memiliki nama asli Ma Yun. Ia sudah menerima penolakan  sejak dia SD karena nilai ujian Matematikanya yang kurang memadai. Bahkan untuk masuk SD, SMP, dan SMA, ia harus melakukan tes berkali- kali sampai sekolah tersebut menerimanya.

Kehidupan keluarganya pun serba pas-pasan. Orangtuanya bekerja sebagai pemusik dan pendongeng tradisional yang hanya mendapatkan tunjangan pensiun sebesar Rp500.000. Kehidupan Jack Ma tidak semulus dugaan kita. Tidak ada satupun prestasi yang ia raih. Malahan ia kerap membuat masalah dan sering berkelahi dengan teman sekolahnya. Hal itu yang membuat Jack Ma tidak lulus ujian sekolah dasar sampai dua kali. Saat ingin meneruskan ke sekolah lanjutan, ia mengalami kegagalan lulus ujian sebanyak 3 kali.

Di usianya yang ke-12, Jack Ma belajar bahasa Inggris selama 8 tahun dengan menjadi pemandu wisata di sebuah hotel dekat Danau Hang Zhou. Pekerjaann ini membuat pemikiran Jack Ma melampaui anak-anak seusianya. Namun, kehidupan Jack Ma tidak hanya berakhir  di situ saja. Ia tetap berjuang sangat keras tanpa kenal lelah.

Setelah tamat SMA, Jack Ma berkeinginan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi  karena ia sadar bahwa pendidikan akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik kelak. Ia mencoba ke berbagai universitas tapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Ia ditolak berkali- kali.

Namun ia mencoba lagi, akhirnya ia berhasil masuk ke Hang Zhou dan akhirnya ia berhasil masuk ke Hang Zhou Teacher’s Institute dan lulus tahun 1988. Kehidupan Jack Ma seperti lembaran kertas yang selalu terisi dengan warna- warni pena tanpa henti. Banyak hal yang lebih susah yang ia alami daripada sebelumnya.

Saat ia melamar ke berbagai pekerjaan, tidak ada satupun yang menerimanya. Bahkan saat melamar menjadi karyawan di KFC pun ia tidak diterima. Dari 24 calon karyawan hanya 23 yang diterima dan hanya menyisakan dirinya yang ditolak. Ia sempat frustrasi, tapi sepertinya keberuntungan berpihak kepadanya. Akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai guru Bahasa Inggris dengan gaji sebesar US$ 12 (Rp 160.000,-) per bulannya.

Karena ingin kehidupannya lebih baik, Jack Ma pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1995 untuk mengikuti proyek pembangunan jalan raya. Disitulah ia mengenal kata internet dan komputer. Ia mencoba  menggunakannya dengan mencari kata “beer” dan “China”. Namun kata tersebut tidak tertera. Terlintas sebuah ide untuk membuat situs. Sebelumnya, Jack Ma sempat bekerja di Kementerian Luar Negeri China dengan menawarkan jasa penjualan produk China menggunakan  akses Internet.

Dia melihat peluang besar untuk menjual barang- barang melalui internet. Akhirnya, di tahun 1999, ia keluar dan membuat situs sendiri. Ia mengumpulkan temannya dan mengemukakan tentang gagasannya. Tentu banyak meragukan gagasan Jack Ma, selain belum berpengalaman, Jack Ma juga bukanlah seseorang yang ahli dalam komputer apalagi coding.

Walau begitu, ia tidak pantang menyerah dan akhirnya ia berhasil mengumpulkan dana patungan bersama teman-teman sebesar US$ 60.000 untuk mendirikan situs yang diberi nama Alibaba.

Perlahan demi perlahan kehidupannya membaik  berkat situs Alibaba. Kehidupan Jack Ma yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah kemudian berubah menjadi seorang milyarder. Ia bertambah sukses setelah Alibaba melepas saham perdananya di bursa saham AS

Hal ini membuat Alibaba tidak pernah menyerah walau memiliki banyak kekurangan. “Jika kamu tidak menyerah, kamu masih punya kesempatan, dan jika kamu kecil, kamu harus fokus dan mengandalkan otakmu, bukan kekuatanmu”, itulah pesan Jack Ma.

Kehidupan Jack Ma seperti duri yang tertancap di tubuh. Ia harus berusaha menarik satu per satu duri meskipun sakit dan mungkin mengeluarkan banyak darah. Namun pada akhirnya semua duri akan lepas dari tubuhnya. Ia tak pernah mengeluh karena lahir di keluarga yang tidak kaya. Walau begitu ia tetap menjalani kehidupannya. Setiap usaha memerlukan perjuangan, jadi, berjuanglah.

 

Ditulis oleh mesti Perawati Sinamo

Siswa Kelas XI SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa