Bahagia Belajar Semasa Pandekik, Mungkinkah ??

Bahagia Belajar Semasa Pandekik, Mungkinkah ??

Oleh : Ernawati Siahaan, S.Kom.

Dunia pendidikan sebelum pandemi Covid-19 dilakukan secara tatap muka baik dalam proses pembelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler atau kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Proses pembelajaran dilakukan mulai dari Senin sampai dengan Sabtu. Hal ini tergantung sekolah masing-masin, apakah 5 hari sekolah atau 6 hari sekolah.

Pembelajaran lazimnya dimulai dari pukul 07.00 sampai dengan 13.00 WIB dan akan dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler atau les tambahan hingga pada sore hari.

Pada minggu ke-3 Maret, virus corona mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam kesehatan individu dan aktivitas masyarakat. Virus tersebut membawa dampak perubahan yang luar biasa untuk semua aspek kehidupan manusia.

Pandemi Covid-19, membawa perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Tadinya, belajar dengan tatap muka dan sekarang berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ/Daring/Online).

Belajar tanpa melihat siswa secara langsung merupakan hal yang  tidak mudah bagi seorang guru. Diski berdalih sedang membantu orangtua berjualan di pasar dan Ilbran beralasan habis paket.

Lain lagi Jaksa yang beralasan ketiduran dan banyak lagi alasan yang lain yang terjadi setiap harinya. Saya menjadi kesal, marah dan jengkel tetapi tidak tahu mau melampiaskan ke mana kemarahan saya. Kadang, saya senyum-senyum sendiri karena dibohongi oleh siswa.

Potret kisah di atas adalah ketidaknyamanan yang dialami guru dalam mengajar selama pandemi Covid-19 ini. Saya lakukan Video Call dengan siswa, menghubungi orangtua siswa serta mengingatkan siswa yang sudah aktif untuk menghubungi siswa. Saya bahkan menghubungi orangtua siswa yang kebetulan dekat dengan rumah siswa (tetangga) yang sering “hilang timbul” dalam pembelajaran.

Ketidaknyamanan yang lain, saya sering merasa tidak puas dalam mendidik para peserta didik di sekolah tempat saya bekerja karena tidak dapat menjangkau siswa-siwin saya secara langsung.

Saya tidak dapat menyentuh mereka secara langsung dalam proses pembelajaran. Saya tidak dapat melihat bagaimana ekspresi anak didik saya saat saya menjelaskan. Saya tidak dapat melihat siapa yang tidak menggunakan seragam sekolah, atribut sekolah dengan baik setiap harinya.

Saya rindu dengan wajah, keisengan, tingkah laku, protes, canda tawa pada saat pagi hari sebelum mulai proses pembelajaran. Tidak lupa juga rindu dengan suara yang riuh di kelas pada saat guru terlambat datang satu menit datang.

Namun demikian, ada sisi lain yang asyik yakni saya harus berusaha untuk menemukan cara yang unik dan lebih mudah untuk menjelaskan materi pembelajaran. Saya membuat video pembelajaran, komunikasi langsung dengan aplikasi WA dan Zoom atau Google Meet, Edmodo dan Google Classroom. Kadang saya menggunakan aplikasi Ms. Power point untuk membuat presentasi. Ini merupakan kenikmatan tersendiri yang saya rasakan.

Dengan adanya aplikasi komputer dan telepon pintar, proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Guru harus lebih banyak belajar aplikasi yang baru agar dapat memberikan materi pembelajaran yang lebih baik dan menarik.

Peserta didik harus lebih kreatif dan harus mampu mengembangkan materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Guru dan orangtua sebaiknya bekerjasama dan bersatu melawan Covid-19 ini dengan semangat.

Pembelajaran secara online/daring benar-benar memang berat dirasakan oleh para guru, peserta didik, dan orangtua peserta didik. Guru sering merasa kurang maksimal dalam menyampaikan materi pembelajaran begitu juga dengan para peserta didik  dalam menerima materi pembelajaran. Orangtua peserta didik mempunyai tugas tambahan dalam membantu anak-anaknya belajar, sementara mereka juga harus bekerja.

Transformasi dan adaptasi menjadikan peranan orangtua sebagai kunci keberhasilan untuk menghadapi situasi ini. Orangtua adalah pintu pertama pada perubahan ini. Orangtua yang menjadi mentor dan pendamping merupakan role model atau teladan perubahan sikap bagi anak-anak mereka.

Orangtua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah, sekaligus menanamkan pola berpikir yang positif. Pandemi ini adalah sebuah pola hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani dengan bijaksana.

Pendidikan merupakan senjata yang paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Pendidikan merupakan paspor untuk  masa depan, karena hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini.

Hal inilah yang diharapkan setiap  guru bagi semua peserta didik. Mereka harus menjadi orang yang mampu mengubah dunia ini menjadi lebih baik dan lebih maju lagi. Harapan setiap guru harus bisa membuat siswa-siswi mereka menjadi berhasil dan sukses

Semoga Covid-19 ini cepat berakhir. Kami, para guru, rindu dengan semua siswa-siswi kami di sekolah dan begitu juga sebaliknya. Semoga semua warga Indonesia senantiasa sehat dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali terutama dalam bidang pendidikan.

Penulis adalah Guru SD & SMK Swasta Methodist Tanjung Morawa

Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *