Andaikan Pandemi Tak Lekas Berlalu

Andaikan Pandemi Tak Lekas Berlalu

Oleh : Sudianto, S.S

“Berapa lama lagi Corona ini bisa berakhir? Sampai kapan Pak kita masih harus belajar daring?” Begitulah pertanyaan salah satu orang tua murid kepada saya. Pertanyaan sama ini juga muncul bagi banyak orang.

Sampai hari ini pandemi sudah berlangsung kurang lebih 5 bulan dan pandemi ini datang ibarat pencuri yang datang begitu saja. Kegiatan ekonomi selama lebih kurang 3 bulan hampir terhenti. Salah satu yang paling merasakannya adalah sekolah terutama para orang tua dan guru.

Jika saya harus jawab jujur atas pertanyaan di awal tadi, maka saya berkata kalau bisa lebih lama, lebih baik. Mengapa demikian? Bagi saya pandemi ini adalah blessing in disguise. Sebelum saya bahas panjang lebar akan hal ini. Marilah kita amati kemajuan pendidikan khususnya guru sebelum dan saat pandemi.

Sebagian guru sudah terjebak dengan zona nyaman mereka, terutama guru-guru yang bersertifikasi. Secara finansial, kesejahteraan mereka lebih terjamin karena adanya tunjangan pemerintah sebesar Rp. 1.500.000,-/bulan, dan bagi yang inpassing malah menerima lebih besar.

Sayangnya, besar tunjangan tersebut tidak diimbangi dengan motivasi belajar yang tinggi sehingga yang sering terjadi adalah rasa enggan untuk belajar hal baru. Padahal, arus globalisasi saat ini menuntut dunia terus berubah secara masif.

Hal ini nyata terjadi ketika program literasi dicanangkan di sekolah. Sebagai langkah memantapkan guru dalam program ini, sekolah berkesempatan bekerjasama dengan Room to Read dan Putera Sampoerna Foundation – School Development Outreach.

Saya memilih guru-guru sebanyak 12 orang dan 7 di antara mereka adalah guru bersertifikasi. Mengejutkan! Lebih dari setengah di antara mereka menolak kegiatan ini dengan alasan mereka sibuk dengan tugas administrasi sekolah.

Ironis memang, peran guru sebagai pengajar malah tidak diimbangi dengan kemauan belajar. Ini malah lebih sering terjadi pada banyak guru yang sudah lama mengajar dan bahkan bersertifikasi.

Guru tersebut “amnesia” akan usaha dan kegigihan mereka ketika mengejar gelar sarjana pendidikan dan saat mengikuti dan menyelesaikan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru).

Serifikasi telah mereka raih tetapi motivasi belajar malah menurun.  Dulu, apapun itu baik waktu, tenaga, pikiran bahkan uang dikorbankan demi mendapatkan gelar dan lulus sertifikasi. Sekarang, hitung-hitungan dan mengeluarkan sejuta alasan ketika harus menuntut ilmu.

Inilah yang menurut saya menghambat program merdeka belajar dari Mas Menteri. Tidak heran, pendidikan di Indonesia tidak beranjak maju. Kalaupun ada, hanya sekolah-sekolah unggulan di kota besar saja yang menunjukkan kehebatannya di Indonesia, bahkan di kancah internasional. Itupun hanya sebagian kecil dan tidak merepresentasikan kemajuan pendidikan Indonesia secara keseluruhan.

Tak heran, laporan hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2018 menunjukkan kompetensi Matematika dan Sains siswa kita masih rendah. Skor negara kita cenderung stagnan, bahkan mengalami penurunan. Buruknya lagi, skor negara kita hanya 371, jauh tertinggal dari rerata negara-negara peserta PISA yakni 487.

Tahun 2018 pemerintah menaikkan anggaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) sebesar Rp79,6 Triliun dari sebelumnya Rp 75,2 Triliun.

Porsi terbesar, sejumlah Rp 58,3 Triliun diberikan kepada 3,9 Juta guru PNS dan sisanya diberikan kepada guru swasta. Pemerintah sangat memperhatikan kesejahteraan para guru dan berharap guru bisa menjadi penggerak memajukan pendidikan di Indonesia.

Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas diri guru itu sendiri. Keengganan belajar sebagai salah satu faktor yang memicu pendidikan di Indonesia stagnan. Guru selalu memerintahkan muridnya untuk belajar giat, tapi dia sendiri boro-boro giat, belajar saja tidak mau.

Selain itu, pemimpin tertinggi sekolah alias kepala sekolah juga punya andil dalam keterpurukan ini. Kepala sekolah berperan bukan hanya sebagai manajer, administrator, motivator, supervisor tetapi juga sebagai pemberi teladan.

Hal ini sesuai dengan yang pernah dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara yang berbunyi Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, memberi contoh tindakan). Kalau guru dan kepala sekolah saja tidak mau belajar, percayalah kemajuan pendidikan tinggal angan-angan.

Kondisi ini diperburuk lagi oleh budaya senioritas dalam bekerja yang masih ditonjolkan. Jika ada rekan guru baru yang mau belajar mengembangkan diri, mereka disepelekan dan dianggap “cari muka”. Ketika “guru kemarin sore” berhasil meraih prestasi malah diremehkan. Golongan senior nyinyir dan iri atas pencapaian mereka (crab mentality).

Namun, situasi pandemi sekarang malah memberi angin segar. Semua guru belajar; banyak video youtube berbahasa Indonesia seputar pembelajaran jarak jauh yang lahir dari para guru.

Banyak guru berlomba mulai membuat konten-konten edukatif. Di sini terlihat kesungguhan guru-guru yang mau belajar untuk berkarya dan berinovasi. Beberapa di antara mereka juga mulai ramai dengan subscribers dan penonton. Ini adalah bukti karya mereka bermanfaat.

Guru tidak punya pilihan lain selain beradaptasi dengan teknologi selama masa pandemi ini. Sebagai contoh, channel yang masih produktif dan ramai dengan penonton saat ini yaitu Refo Indonesia. Per Desember 2018, mereka “Cuma” punya 12 video dan hanya ditonton paling banyak 26 penonton.

Takjubnya, per Agustus 2020 jumlah penonton Refo Indonesia sudah mencapai 521.457 dan mereka sudah memiliki lebih dari 80 video yang juga diisi oleh para tenaga pendidik Indonesia.

Sense of crisis dari guru-guru timbul pada masa-masa seperti ini. Suka atau tidak, guru harus belajar. Guru yang melek teknologi akan langsung mencari tutorial dari google ataupun youtube. Sedangkan, guru yang tidak, akan belajar dari rekan kerja ataupun kelas-kelas belajar yang dilaksanakan di sekolah.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Program-program belajar dari rumah, karya Kemdikbud, juga terus dikembangkan. Salah satu yang patut mendapat apresiasi adalah laman Guru Berbagi yang diluncurkan pada 31 Maret 2020.

Hingga tanggal 24 Agustus 2020, laman ini menghasilkan hampir 16.000 RPP. Selain itu, pengguna aktif dari kalangan guru maupun praktisi pendidikan bertambah menjadi hampir 123.000. Secara keseluruhan laman Guru Berbagi telah diakses sebanyak lebih dari 28 juta pengguna.

Kehadiran laman ini menolong banyak guru di Indonesia dalam merancang pembelajaran yang kreatif selama PJJ walaupun tidaklah 100% solutif. Angka-angka di atas menunjukkan arus gelombang berbagi yang begitu antusias di antara para tenaga pendidik bahkan kalangan lintas profesi dari bidang teknologi atau pendidikan. Jelas ini sebuah pencapaian dan hal positif yang patut disyukuri.

Budaya kolaborasi, atau kita kenal sebagai gotong royong secara masif hadir di tengah pandemi. Hal ini juga adalah salah satu kecakapan abad ke-21 yang penting. Bagi kita, ini  bukanlah hal baru tetapi merupakan warisan budaya karakter bangsa kita yang perlu kita tetap teladani hingga sekarang. Itu sebabnya, saya berkata ini sebuah berkat terselubung (blessing in disguise).

Alfred Toffler berkata “Buta huruf di Abad ke-21 bukanlah orang yang tak bisa baca-tulis, tapi orang yang tak bisa belajar (learn), melepaskan yang diketahui (unlearn) dan belajar ulang hal baru (relearn)”. Perkembangan dunia saat ini sedemikian dinamis, jika guru tidak memiliki motivasi belajar, maka guru harus siap menghadapi keterpurukan.

Dengan budaya gotong royong dibarengi dengan motivasi belajar, guru akan mampu mengayunkan dayung bersama menerjang badai. Pandemi ini tidak boleh dipandang sebagai musibah semata. Mari kita menyikapinya dengan bijak untuk melompat bersama dalam memajukan pendidikan Indonesia. Inilah makna merdeka belajar yang harus dimiliki oleh para guru. Akankah guru tetap berkolaborasi dan belajar setelah pandemi berlalu?

 

Sudianto, S.S.

Kepala Sekolah SD Swasta Methodist Tanjung Morawa

Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *