(35 – 42 – 50) GB: Gelora Bahagia/Bijaksana

(35 – 42 – 50) GB: Gelora Bahagia/Bijaksana

Oleh : Kisno, M.Pd.

“Sumpek, gara-gara Corona malah aku yang belajar. Mana jualan kurang lancar, bagaimana aku membayar uang sekolah anak? Belum lagi kuota untuk tiga anak saya!” begitulah sekilas keluhan yang terdengar dari seorang ibu rumah tangga di sebelah rumah saya.

Omelan-omelan dengan versi lain kerap terdengar di telinga saya. Omelan tersebut seakan-akan menyentil saya bahwa ada tanggungjawab yang besar sebagai seorang pengajar di masa pandemi saat ini.

Lain lubuk, lain pula ikannya. Persoalan Pembelajaran Jarak Jauh memiliki keterbatasan berdasarkan kondisi geografis. Di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar)titik nadirnya adalah kepemilikan gawai. Lebih dalam lagi, jangankan kepemilikan gawai, akses internet saja masih sulit.

Omelan, keluhan, dan gambaran permasalahan tadi adalah gambaran mikro dari rentetan-rentetan permasalahan pendidikan di Indonesia. Andai dituliskan dalam daftar, tentu saja akan menjadi kitab kumpulan permasalahan yang diakibatkan dari pandemi Corona.

Corona memang tidak bisa luput atas dasar negara, ras, bahkan kekebalan tubuh manusia. Sebaliknya, apa yang luput adalah bagaimana perspektif dan cara manusia dalam menghadapi pandemi tersebut.

Luput, mulai dari kelakar bahwa Corona tidak akan sampai ke Indonesia. Tak luput pula, saat negara lain sudah melakukan lockdown, Indonesia masih santai hingga World Health Organization (WHO) menyurati Indonesia untuk menetapkan Corona sebagai bencana nasional. Perspektif individu terkadang luput bahwa di balik bencana, ada sebuah hikmah yang terselubung.

Terobosan Pemerintah dan Masyarakat

Berbagai kebijakan dirumuskan dan diterapkan khususnya dalam sektor pendidikan. Tayangan program-program yang menarik melalui TVRI (Kompas 20/04) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi salah satu alternatif solusi yang ditawarkan.

PJJ memang tepat diberlakukan untuk daerah perkotaan atau daerah padat penduduk seperti wilayah perkotaan. Salah satu pencegahan Corona adalah dengan Social atau Physical Distancing dan PJJ sangat mendukung salah satu langkah pencegahan Corona.

Sebelum ada pandemi Corona, pegiat pendidikan dan guru di daerah 3T juga sudah melakukan PJJ. Mereka harus menempuh jarak yang jauh untuk menjangkau peserta didik yang berada di wilayah 3T.

Kegigihan dan keihkhlasan pegiat pendidikan atau guru dengan filosofi “Jauh tak berjarak, dekat tak bersentuhan” sudah menjadi keseharian mereka. Tak peduli dengan jarak, niat baik mereka dalam mewujudkan amanat UUD 1945 yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa” tetap terwujud, bahkan sebelum pandemi Corona ada.

Ada juga solusi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk keperluan pembelian pulsa dan kuota internet. Hal ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19 Tahun 2020 tentang fleksibilitas penggunaan dana BOS (Kompas 09/06). Solusi ini bahkan mencakup pemberian honorarium guru semasa pandemi.

Kemdikbud juga mengeluarkan pedoman pelaksanaan kurikulum dalam kondisi tertentu sebagai acuan guru dan sekolah selama PJJ dalam pandemi Corona.  Pedoman ini dituangkan dalam Kepmendikbud Nomor 719/P/2020.

Ada tiga prinsip “merdeka belajar” dalam pedoman pelaksanaan kurikulum ini yakni satuan pendidikan boleh 1) tetap mengacu pada Kurikulum Nasional; 2) menggunakan kurikulum darurat; atau 3) melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri (Kemdikbud 07/08).

Solusi ini ternyata sudah dilakukan jauh sebelum kondisi pandemi. Sanggar Anak Alam (SALAM) telah ada sejak tahun 1988 di Desa Lawen dan dihidupkan kembali oleh Mas Toto Rahardjo dan Sri Wahyaningsih di Kelurahan Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta pada tahun 2000.

SALAM menggunakan kurikulum secara mandiri. Fakta yang menarik adalah peserta didik memang benar-benar belajar dengan model “out of the box”. Selama ini, barangkali mendengar kata “sekolah”, kita diarahkan pada pemikiran akan sebuah gedung yang penuh akan aktivitas pembelajaran antara guru dan peserta didik.

SALAM tidak demikian halnya. Guru, peserta didik, bahkan orangtua dilibatkan dalam proyek kolaboratif. Bahkan di tengah pandemi, SALAM memberikan pembelajaran Physical Distancing melalui teknik menanam padi. Sederhana saja, kalau padi ditanam terlalu rapat jaraknya, tentu saja akan membuahkan hasil yang kurang maksimal, sehingga perlu “jarak” antara bibit padi antara satu dengan yang lain.

Saya tidak menghakimi bahwa solusi yang diberikan oleh Kemdikbud gagal, namun menurut saya harus lebih inovatif dari solusi yang ditawarkan dari SALAM, Sekolah Rimba, dan alternatif lainnya.

Tak putus asa, Kemdikbud bekerjasama dengan tiga Kementerian lainnya mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri pada awal Agustus 2020. Poin utama dari SKB ini adalah pelaksanaan pembelajaran secara zonasi berdasarkan sebaran infeksi Corona di setiap wilayah.

Zonasi terbagi dalam empat kategori yakni Zona Hijau, Zona Oranye, Zona Kuning, dan Zona Merah. Wilayah yang masuk dalam kategori Zona Hijau dan Oranye dapat melakukan pembelajaran secara tatap muka dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (Setkab 07/08).

Angin Segar: Bantuan Kuota

Ketuk palu dari hasil Rapat Kerja (Raker) Bersama bersama Komisi X DPR RI di MPR/DPR RI di Senayan pada 27 Agustus 2020 menghasilkan sebuah Gelora Bahagia (GB). 9 triliun dana akan dikerahkan untuk kuota atau pulsa bagi siswa, guru, mahasiswa, dan dosen.

Bantuan kuota dan pulsa ini berlaku mulai September hingga Desember 2020. Secara terperinci, setiap bulan siswa akan mendapat 35 GB per bulan, kemudian guru akan mendapat kuota 42 GB per bulan, dosen dan mahasiswa akan mendapat kuota 50 GB per bulan (Detik 27/08).

Angin segar ini perlu ditindaklanjuti oleh masing-masing satuan pendidikan. Jangan sampai semua berebut Zoominar secara bersamaan. Kaji dan tentukan kapan satu mata pelajaran (mapel) tertentu akan menggunakan tatap muka secara daring agar tidak terjadi tumpang tindih presentasi antara satu mapel dengan mapel lainnya.

Selain itu, kesadaran (konsientisasi) juga perlu bagi orangtua dan peserta didik. Kebagian kuota akankah dipergunakan dalam pembelajaran atau dalam hal lainnya? Misalnya game (permainan) dan distraksi-distraksi lainnya seperti interaksi media sosial yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Epilog

Sebuah pertanyaan menggelitik dalam benak saya adalah “Apakah bantuan kuota dan pulsa ini sudah tepat?” Saya menjawab “Sudah” bagi daerah yang memiliki akses internet dan kepemilikan gawai yang sudah mumpuni. Namun, “Bagaimana dengan daerah 3T yang tidak memiliki akses internet? “

Alangkah baiknya, kucuran dana yang “lumayan” besar ini diwujudkan dalam zonasi juga. Untuk daerah yang akses internetnya sudah baik, kebijakan ini dapat diterapkan. Untuk daerah 3T perlu ada transformasi “merdeka belajar”, apakah diwujudkan dalam pembangunan infrastuktur seperti balon udara untuk akses internet, atau insentif bagi pejuang pendidikan jarak jauh.

Gelora Bahagia atau Bijaksana (GB) tidak hanya dinikmati oleh guru atau pejuang pendidikan di wilayah perkotaan, namun juga di wilayah 3T. Hal ini juga sekaligus mewujudkan prinsip “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Singkatnya, angin segar dari Kemdikbud dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagai penutup, kembali kepada perspektif dan mentalitas individu. Mengeluh memang menjadi salah satu solusi negasi, namun kembali ke hakikat pendidikan hadap masalah (problem-posing education). Tidakkah dalam keluhan sekalipun kita masih mampu berpikir kritis untuk memecahkan masalah kehidupan? Bukankah pendidikan itu pada hakikatnya berawal dari keluarga dan lingkungan sekitar?

Berapa banyak kreativitas penyajian pembelajaran yang tumbuh dalam pandemi Corona? Seberapa mampu kita mentransformasi perspektif kita dalam menghadapi masalah? Apakah problematika (pendidikan) menjadi tanggungjawab pemerintah atau justru pribadi kita yang menghadirkan solusi? 35-42-50 adalah bantuan dalam dunia maya. Apakah kita bergantung pada dunia maya seterusnya? Mari berbahagia, mari bercermin kembali, merenung dan bertindak dalam kebijaksanaan.

 

Penulis adalah Sie. Kurikulum di SMP Swasta Methodist Tanjung Morawa dan Pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi dan Manajemen Indonesia (STAMI), Sumatera Utara.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *